Jan 16, 2010

analisa singkat




Pendahuluan


Seperti yang sudah kita tahu bahwa setiap hal yang ada di sekeliling kita mempunyai makna dan tujuan dalam proses pembuatannya. Seseorang yang membuat air panas, pasti mempunyai tujuan mengapa ia memasak air panas. Apakah ia ingin membuat minuman hangat, atau ingin mandi dengan air hangat ? dua hal tersebut merupakan hal yang terlintas ketika dihadapkan sebuah pernyataan “ saya akan membuat air panas “.  Hal pertama yang akan teranalisa tanpa sadar oleh otak kita adalah, untuk apa ia membuat air panas, dengan apa ia membuat air panas, dan bagaimana ia membuat air panas. Begitu pula yang terjadi pada sebuah film, ketika kita di hadapkan pada sebuah medium audio visual dan melihat sebuah hal dari film yang menarik perhatian kita. Pasti otak kita akan menyusun sejumlah pertanyaan, apa, siapa, mengapa, kapan, bagaimana dan dimana. Namun dalam film akan lebih jauh jawabannya, bukan hanya sekedar jawaban singkat melainkan dengan jawaban lengkap yang penuh dengan unsure argumentasi dan landasan berpikir serta referensial.
Dalam pembahasan kali ini, saya sebagai penulis akan memaparkan mengenai analisa semiotika setting ruang keluarga dan ruang makan dalam film Coraline karya sutradara Henry Selick yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama yaitu Coraline. Produksi Universal Pictures yang mengajak artis Dakota Fanning sebagai pengisi suara tokoh Coraline cukup sukses mengusung film animasi yang tidak biasa.
Semoga Pembahasan setting ruang keluarga dan ruang makan pada film Coraline dapat membawa manfaat bagi semua pihak serta bisa menjadi referensi pembelajaran mengenai semiotika.
           







  1. Coraline dan sekitarnya

Sebelum masuk terlalu jauh dalam pembahasan semiotika, saya akan menceritakan secara singkat cerita film animasi yang berjudul Coraline. Hal ini bertujuan agar pembaca dapat dengan jelas mengetahui sebab-akibat mengapa setting ruang dapat terjadi seperti itu. Berikut di bawah ini adalah synopsis singkat film Coraline.
Coraline Joneses dan keluarganya merupakan orang baru di pink palace apartment yaitu sebuah apartment yang berbentuk rumah tua bergaya Victorian dengan cat pink yang sudah bobrok dan para  tetangga yang nyentrik. Ketika Coraline berjalan-jalan di sebuah hutan pinus untuk mencari sumur keramat, ia bertemu Wybie yaitu cucu dari nenek tua pemilik pink palace dimana Coraline tempati saat ini. Wybie tidak sendiri, ia selalu di temani oleh kucing hitamnya yang kurus. Kemudian setelah perkenalan singkat di bukit yang terlihat sangat menyeramkan itu, Wybie kaget ketika Coraline menyebutkan bahwa ia menempati pink palace milik nenek dari Wybie. Wybie pun akhirnya menjelaskan mengapa ia begitu kaget, hal itu didasari oleh sikap setuju neneknya yang memperbolehkan keluarga Joneses tinggal disana karena biasanya nenek dari Wybie mencoba untuk menemukan pasangan muda tanpa anak untuk menyewa apartmentnya. Hal ini yang sangat membuat Wybie bertanya-tanya, mengapa keluarga Joneses diperbolehkan menyewa apartment tersebut.
Keesokan harinya Wybie datang menghampiri Coraline dan memberika boneka yang mirip dengan fisik Coraline. Wybie menemukan boneka itu di rumah neneknya, namun ada yang aneh dari boneka tersebut. Mata boneka itu terbuat dari kancing berwarna hitam dan besar. Namun Coraline tidak mencurigai boneka pemberian Wybie walaupun terlihat agak sedikit menakutkan. Pada suatu sore dengan cuaca yang hujan, Coraline mengitari seluruh penjuru rumah atas suruhan ayahnya yang tidak ingin diganggu. Keadaan orang tua yang sibuk selalu membuat Coraline mencari perhatian yang lebih dan terkadang berbuat berlebihan. Saat Coraline berada di ruang keluarga, ia mengamati sebuah lukisan yang aneh dan kemudian ia mencatatnya. Saat ia sadar bahwa bonekanya berpindah tempat, Coraline langsung mencarinya walaupun dengan sedikit curiga. Boneka itu terletak di balik sebuah kardus besar, Coraline pun mengambil boneka itu dan terlihatlah sebuah pintu kecil yang sudah tertutup wallpaper. Dengan rasa penasarannya, Coraline pun memanggil ibunya untuk membukakan pintu tersebut. Ibu Coraline pun mencarikan sebuah kunci yang tampak berbeda di antara semua kunci yang ada yaitu kunci dengan motif kancing dan berwarna hitam. Dengan merusak bagian wallpaper tersebut, dan membuka kunci serta lalu membuka pintu itu. Namun bukan sebuah lorong atau ruangan lain yang terlihat melainkan sebuah susunan batu bata. Ternyata pintu tersebut telah tertutup, coraline pun kecewa. Pada malam hari nya,  makan malam keluarga Joneses tidak sehangat makan malam layaknya keluarga kecil. Hanya makan seadanya dan ruang dapur yang kosong tanpa perabotan. Saat tidur, Coraline melihat tikus loncat di kamarnya dan mengarahkan langkah kaki Coraline menuju ruang keluarga dan tikus tersebut masuk ke dalam pintu buntu itu. setelah Coraline mencoba untuk membuka pintu tersebut, yang terlihat adalah sebuah lorong yang dihiasi dengan warna-warna hangat dan terdapat sebuah lorong yang ternyata adalah ruangan yang sama seperti ruang keluarganya dengan sebuah perbedaan pada lukisan. Lukisan yang ada pada ruang keluarga Coraline adalah lukisan pria kecil yang sedih dengan membawa ice cream yang telah jatuh. Dengan sifat Coraline yang penuh dengan rasa ingin tahu, akhirnya ia pun memasuki ruangan yang terlihat sama persis dengan rumah barunya hanya saja ruangan ini terlihat lebih rapih dan lebih hangat serta lebih hidup dari pada rumah yang ia tempati. Coraline mencium bau masakan yang tidak pernah ia temuka sebelumnya. Ia menuju dapur dan melihat sosok seperti ibunya yang sedang memasak, ketika sang ibu berbalik yang Coraline lihat adalah fisik ibunya dengan mata kancing sebagai pengganti matanya. Coraline pun menanyakan siapa sosok itu dan ternyata ia adalah Other Mother Coraline. Sang Other Mother menyuruh Coraline untuk melihat Ayahnya. Dan sama persis apa yang Coraline liat sebelumnya, ia menemukan ayah fisiknya dengan mata kancing, sama seperti Other Mother. Sosok ayah itu pun mengaku sebagai Other Father. Orang tua Other Coraline itu sangat manis memperlakukan Coraline, sama seperti anak mereka sendiri. Dan setelah Coraline kembali ke alam sebenarnya, kerinduan akan kasih sayang dari orang tua Other pun mencuat. Akhirnya Coraline berjalan menuju pintu penghubung itu dan lagi-lagi menemukan kebahagiaan yang tidak ia temukan pada keluarganya.
Kebahagiaan itu pun hanya sementara bagi Coraline, orangtua Other Coraline menginginkan Coraline tinggal bersama mereka selamanya. Namun dengan syarat, Coraline harus mengganti matanya dengan kancing. Syarat ini pun di terima oleh Coraline pada awalnya namun Karena Coraline melihat orang tua aslinya terkurung dalam bola kaca. Niat untuk meninggalkan keluarga aslinya pun sirna, Coraline berusaha menyelamatkan keluarga aslinya dari eksploitasi keluarga Othernya.  Pada akhirnya, Coraline mampu menyelamatkan keluarga aslinya dan menutup akses pintu ke keluarga Othernya.  Dan keluarga mereka bahagia dari pada sebelumnya.
Happy ending yang sudah menjadi ciri khas Hollywood pun mewarnai film ini. Genre film animasi dengan drama psikologi seperti ini jarang dikemas dengan begitu menarik. Film Coraline merupakan drama keluarga yang terkesan begitu mengerikan karena setting lokasi yang terkesan horror. Namun pesan Home Sweet Home yang ingin disampaikan oleh film maker, mampu ditangkap dengan mudah oleh penonton.

B.     Setting ruang Coraline


Dalam pembahasan berikut ini, setting yang akan dieksplor lebih berkisar tentang  ruang makan dan ruang keluarga. Mengapa dua ruang tersebut yang akan saya bahas lebih jauh? Hal ini dikarenakan kedua ruang tersebut yang sangat memiliki kaitan erat demi kelanjutan perjalanan cerita tokoh Coraline. Dan perbedaan antara kedua ruang ini pada keluarga Other dan keluarga asli paling mudah untuk dibedakan.

    • Ruang Makan

Di ruang makan keluarga asli dari Coraline berciri sebagai berikut, Warna berkesan dingin, tidak ada unsure warna warm ( hangat ) di dalamnya – turunan warna merah – yang ada hanyalah warna dingin ( turunan warna biru dan hijau ) dan warna pucat ( kuning muda ) serta terlihat kusam dan tak terawat, tidak ada banyak perabot rumah tangga, ruang makan yang seadanya, penerangan berupa lampu tidak terang ( hanya menerangi bagian tengah ruangan dan tepat di bawah meja makan ). Terdapat sebuah jendela besar di depan meja makan, sebuah kompor gas, sebuah wastafel, kitchen set lengkap, terdapat alat masak seadanya, hanya ada teko, rak piring namun hanya terdapat sebuah gelas di atasnya, sebuah pot tanaman layu, tumpukan kardus di pojok dapur, sebuah lap kotor, sebuah meja kayu bundar, kursi yang terlihat bukan merupakan kursi yang tidak memiliki warna senada dengan meja makan, jendela tanpa tirai, sebuah lampu gantung usang dan beberapa gambar yang disisipkan oleh Coraline dekat jendela.
Bedakan dengan keadaan ruang makan pada keluarga Other Coraline. Warna yang ada berkesan hangat yaitu warna percampuran antara orange dan dominan kuning. Ruang makan yang bersih dan tertata rapi. Benda-benda yang terdapat di dalamnya berupa sebuah kitchen set lengkap, lampu ambience ruang, jendela bertirai, hiasan gantung berwara-warni, sebuah lampu gantung yang bercorak dan berwarna, satu set meja makan beserta kursinya dengan warna senada, terdapat sebuah vas bunga dan bunganya berwarna kuning, kompor gas yang di pergunakan, terdapat banyak alat masak seprti pisau, mangkuk-mangkuk, panci-panci, rak susun untuk bumbu, sebuah teko berwarna terang, sebuah meja untuk memotong sayuran, sebuah alat ukur untuk bahan makanan, beberapa piring dengan makanan di atasnya, dan ruangan ini terlihat begitu indah dan hommy.

    • Ruang keluarga
Ruang keluarga untuk keluarga Coraline yang asli sama seperti ruang makan keluarga asli yang berwarna dingin dan kusam. Hal tersebut terjadi pula pada ruangan keluarga asli Coraline. Berwarna dingin ( berwarna biru dan turunannya ), kusam, tidak ada penerangan lampu, terdapat tiga buah jendela, sebuah lukisan ( berupa gambar seorang anak laki-laki kecil yang sedang memegang cone ice cream dengan ice cream scoop yang terjatuh ), terdapat sebuah perapian yang gelap, sebuah sofa panjang dengan warna yang kuning kusam  yang tidak menarik, sebuah kursi kayu yang tidak sepadan dengan sofa panjang, terdaat sebuah sofa di sebelah perapian, sebuah lemari besar pada sudut ruangan, kardus-kardus yang terdapat bola-bola kaca, sebuah lampu gantung kristal yang tidak menyala, sebuah kardus besar pada sisi kiri ruangan – benda ini yang menutupi pintu rahasia menuju dunia jeluarga Other - , sebuah meja kecil, jendela tanpa tirai, sebuah karpet berwarna coklat tua dan sebuah alat pemanas ruangan.
Ruang keluarga Other Coraline sebenarnya masih sama dan tidak jauh berbeda dengan ruangan keluarga di keluarga asli Coraline, yang membedakan hanyalah sebuah lukisan anak kecil yang sedang memegang ice cream cone. Pada ruangan keluarga Other sang anak yang terdapat di dalam lukisan tersenyum dan sedang menjilat ice creamnya yang tidak jatuh.
Saya akan hanya membahas dua ruang tersebut, namun akan lebih saya fokuskan pada ruang makan karena sumber dari perubahan sikap Coraline berada di ruang makan yakni ruang makan keluarga Other. Sikap Coraline yang akan berubah keputusan untuk menjadi anggota keluarga Other dan merubah matanya menjadi kancing kemudian pada akhirnya ia manggagalkan rencananya tersebut. Ruang makan menjadi sentral perjalanan cerita serta perubahan sikap Coraline.

C.     Teori Psikoanalisa


Dalam Film Coraline, awalnya kita sebagai penonton akan mengira bahwa film ini hanyalah sebuah film animasi pada umumnya yang mengangkat tema keluarga serta impian yang menyenangkan. Setelah kita lihat dan telusuri, terdapat sebuah ilmu yang diterapkan disini. Tidak seperti pembuat film lainnya yang membiarkan penonton mencari landasan berpikir  masing-masing walaupun pada awal film, penonton digiring masuk ke dalam sebuah ideology tak tersurat. Henry Selick memasukkan sebuah kata kunci yang membuat saya langsung menuju pada sebuah landasan berpikir Psikoanalisa. Sudah saya sering sebutkan sebelumnya pada pembahasan di atas, kata Other yang merepresentasikan artian Lainnya ini menyita perhatian saya sejenak.  Dalam film, Coraline bertemu dengan karakter bernama Wybie (kependekan Wyborn, plesetan dari kalimat "Kenapa dilahirkan" )
            Dalam Lacan " The Mirror Stage as Formative of the I" (1936, 1949), Lacan menguraikan perkembangan ego dalam Tahap Cermin. Seorang anak, antara usia 6-18 bulan, menjadi mampu mengenali bayangannya sendiri. Anak dapat merasakan dirinya sebagai suatu kesatuan dan individu yang terpisah. Di lorong yang berada di ruang keluarga Coreline merupakan komponen kunci untuk pembentukan ego atau aku, Lacan mengatakan bahwa menemukan pintu rahasia yang mengarah ke cermin dunia di mana segala sesuatu adalah lebih baik daripada dunia nyata. Dan dunia di dalam cermin itu, Coraline menemukan Ibu yang lain 
( Other Mother ). Other Mother yang merupakan “warga” boneka dunia cermin mewakili sebuah symbol kecacatan. Other Mother dan Other father memiliki kancing sebagai mata mereka dengan artian sebuah larang pandangan yang benar.

Other Mother menyambut dan memmberikan rasa nyaman pada Coreline pada awalnya. Tetapi setelah Coreline menolak untuk menjadikan kancing sebagai matanya di dunia cermin, semakin dia menyadari bahwa Other Mother tidak sepenuhnya murni. Coraline harus menyerahkan tempatnya di dunia nyata dengan menjahitkan kancing ke matanya sendiri dan ini merupakan simbolik bahwa Coreline telah terpengaruh dan merasa nyaman dengan Other Mother.
      Penjelasan diatas merupakan pengantar yang baik untuk memasuki penjabaran mengenai setting ruang makan dan ruang keluarga dalam film Coraline ini.

D.     Interpretasi Ruang makan Coraline


Ruang makan Coreline pertama yaitu ruang makan keluarga asli seperti gambar dibawah ini :


·        Jendela tanpa tirai menandakan bahwa tidak ada yang harus di tutupi dari keluarga ini dengan ibu yang super sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak sempat untuk mendekorasi ruangan sehingga ruangan ini terlihat tampak tidak terasa berpenghuni.
·        Meja dan kursi yang tampak begitu sederhana dan berkesan seadanya. Kursi yang terdapat pada gambar di atas merupakan perwakilan dari pola hidup yang simple.
·        Tanaman yang layu, mewakilkan bahwa keadaan keluarga tidak bersemangat karena kesibukan masing-masing anggota keluarga sehingga tidak ada yang mempunyai waktu untuk merawa tanaman di pot tersebut.
·        Lampu penerangan terkesan kusam dan suram, hal ini juga memberikan kita informasi bahwa, keadaan keluarga memang sangat dingin dan lebih mementingkan urusan pribadi dari pada urusan bersama.
·        Kardus yang terdapat di sudut dapur, mewakilkan keadaan ibu yang tidak peka terhadap ruangan karena ia hanya peduli dengan kehidupan karirnya saja.
·        Jenis makan malam yang disajikan tidak terlihat istimewa untuk keluarga kecil seperti itu dan tampilan makanan yang kurang menggugah selera makan.
·        Tidak adanya perabot rumah tangga di dapur. Masih sama seperti alasan atas segala penjelasan visual di atas. Perabotan rumah tangga yang banyak terdapat di dapur dapat menandakan bagaimana pola perilaku ibu di dapur. Jika kasusnya seperti gambar di atas, maka dapat saya katakan kembali bahwa sang ibu tidak terlalu menghabiskan waktu di rumah dan memasak. Tipe ibu seperti ini adalah tipe ibu pekerja keras dan tidak suka menghabiskan waktu dengan memasak.
·        Rak cuci piring. Dalam gambar di atas terdapat sebuah rak untuk menaruh piring yang telah dicuci bersih agar dapat dipakai kembali. Namun dapat kita lihat dengan jelas, hanya terdapat sebuah gelas di sana dan dapat di artikan bahwa hanya barang kesayangan saja yang dipergunakan dan dirawat. Barang yang sangat penting lah yang dirawat. Pada adegan sebelumnya, beberapa kali gelas bertuliskan I love munich muncul sebagai property utama dan sangat jelas andilnya.
·        Warna ruangan yang berwarna pucat dan terkesan dingin, menandakan bahwa keadaan intern keluarga sangat mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan anggota keluarga lainnya.
·        Lantai dapur kotak-kotak. Menandakan bahwa dalam keluarga ini pengkotak-kotakan selalu terjadi. Semua anggota keluarga selalu sibuk dengan urusannya masing-masing.

Ruang makan keluarga lainnya. Berikut ini adalah gambar kondisi ruang makan.




·        Berbeda dengan tampilan ruang makan sebelumnya, setting ruang makan pada ruang ini begitu menarik dan terkesan hommy dan kekeluargaan.
·        Jendela sudah terdapat tirai yang seolah-olah membuat pembatas antara dunia luar dengan dunia mereka. Tidak ada yang tau kehidupan di dalam ruangan tersebut melainkan keluarga Other.
·        Meja makan yang sepadan dengan kursinya, menandakan bahwa anggota keluarga sangat memperhatikan ruangan dan merawatnya.
·        Vas bunga di atas meja. Vas bunga yang berisikan bungan berwarna kuning tersebut mewakilkan sebuah harapan baru akan muncul dan dapat di katakan juga bahwa ibu Other ini sangat memperhatikan ruangan. Dan lagi-lagi kembali pada pembahasan Lacan bahwa dunia cermin terlihat lebih indah dari yang sebenarnya.
·        Perabotan rumah tangga yang berjajar rapi menandakan bahwa dapur tersebut merupakan dapur aktif yang selalu di gunakan.
·        Lampu bercorak. Benda ini menandakan bahwa sang pemilik ruang begitu memperhatikan hal terkecil dalam penataan ruang.
·        Semua benda yang ada di ruangan makan keluarga Other merupakan representasi dari perkataan Lacan bahwa dunia cermin lebih indah dari pada dunia yang sebenarnya. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa semua hal yang terlihat dalam ruang makan ini begitu indah dan terkesan lebih ramah dan bersifat  nyaman.

E.     Interpretasi Ruang Keluarga Coraline



Di bawah ini adalah ruang keluarga Coraline, kali ini saya tidakakan membaginya menjadi dua bagian secara penuh seperti pembahasan saya sebelumnya diatas karena pada setting ruang kali ini, perbedaan tidak banyak mengalami perubahan. Hanya lukisan saja yang menjadi penanda perbedaan ruang dan waktu.
Berikut ini adalah gambar dari ruang keluarga Coraline.

saya akan mendeskripsikan ruangan ini :

·        Tiga buah jendela mewakili tiga orang anggota keluarga, yakni Ibu, Ayah dan Coraline.
·        Kardus-kardus yang menumpuk disekitar ruangan menandakan bahwa belum terjadi kegiatan merapikan barang-barang. Karena dalam cerita, keluarga Coraline adalah keluarga yang baru saja menmepati rumah tersebut.
·        Warna dinding yang begitu dingin semakin menggambarkan bahwa keadaan rumah dan kondisi interaksi antar anggota keluarga tidaklah baik dan cenderung mengasingkan diri sendiri.
·        Furniture rumah yang ada memperlihatkan bahwa rumah yang mereka diami adalah rumah tua ratusan tahun dengan bergaya arsitektur Victoria. Terlihat dari bentuk lampu sudut, sofa tua, lampu ruangan, lemari serta kusen jendela dan bentuk pajangan yang ada di dalam ruangan itu.
·        Sebuah kursi  yang berbeda dari sofa, menandakan bahwa ada satu orang yang merasa terasingkan. Dalam kasus film ini adalah Coraline dan maka dari itu ia mencari kebahagian di dunia bagian lain.
Gambar anak laki-laki kecil yang membawa ice cream jatuh merupakan penggambaran bahwa keluarga tersebut berada dalam keadaan yang jatuh dimana anak-anak yang diwakilkan oleh ice cream scoop ( Coralie dalam kasus kali ini ) sulit untuk berpijak pada tempat yang sebenarnya ( orang tua yang diwakilkan oleh cone ice cream ). Sedangkan gambar yang ada pada rumah keluarga Other, ice creamnya tidak jatuh dan masih utuh, seolah-olah rumah itu memberikan harapan bagi Coraline untuk berpijak kembali dan menumbuhkan rasa kepercayaannya kembali.

F.      Kesimpulan


Berdasarkan penjabaran di atas, saya berkesimpulan bahwa  setting ruang tamu dan ruang makan Coraline dengan dua dunia yang terpisahkan oleh dinding pembatas pintu berkunci kancing itu lah awal dari segala pergerakan cerita Coraline di mulai dan berakhir juga. Perbedaan setting yang sangat jelas tergambar di film ini, menunjukkan bahwa pemberian informasi kepada penonton sangat lah penting dan berguna untuk identifikasi cerita. Teori Other Lacan memang pantas digunakan untuk pembahasan film Coraline dikarenakan pengantar teori yang diberikan oleh pembuat film dengan memberi kata kunci Other Mother dan Other Father untuk tokoh yang berada pada dunia cermin tersebut.
Yang mempengaruhi penciptaan kesan keadaan ruang dalam setting ruang yang telah saya bahas sebelumnya di atas, dapat disimpulkan bahwa pencahayaan, warna dominan, banyaknya hal yang terlihat di dalamnya, motif atau corak dari benda-benda yang ada sebagai action prop atau hanya menjadi set prop saja dan keadaan benda-benda di dalamnya ( apakah rusak atau terawat dengan baik ), efek yang ditimbulkan oleh penciptaan kesan tersebut membawa dampak psikologis juga bagi penonton. Sehingga penonton dapat merasakan keadaan keluarga yang dingin pada ruang makan pertama dan keadaan keluarga yang hangat pada ruang makan kedua yaitu keluarga Other. Saat memasuki ruang makan pertama, yang disuguhkan film maker adalah sebuah keadaan yang lebih mementingkan diri sendiri. Hal ini bisa diketahui dari peletakan property dengan jumlah single, seperti gelas yang terletak sendiri di atas  tempat pirirng, pot tanaman yang terletak juga sendiri dekat jendela, perabot rumah tangga tidak pernah dengan jumlah double untuk tiap benda. Image kesendirian, ketidak pedulian banyak diciptakan disini melalui property dalam set. Coba kita bandingkan dengan ruang makan keluarga Other dimana semuanya terasa menjadi begitu hommy, penuh kehangatan. Jika dilihat melalui property yang ada, pada setting ruang makan kedua kali ini, sangat jelas berbanding terbalik dengan setting ruang makan pertama. Ruangan kali ini terdapat banyak perabotan, bunga segar yang berada di atas meja, hiasan yang terletak di atas jendela seakan-akan ruangan ini memang dirancang dan dipergunakan selalu untuk aktifitas dapur.  Ruangan yang tertata rapi juga merupakan sebuah penanda bahwa sang pemilik ruangan sangat merawat ruangannya sehingga menciptakan sebuah ketertarikan tersendiri bagi Coraline. Pada ruang makan keluarga Other, pembuat film ingin menampilkan sebuah keluarga yang berbeda dengan situasi yang berbeda dan belum pernah di alami oleh Coraline. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Lacan bahwa dunia cermin lebih indah dari pada dunia real. Hal ini sudah  di wakili oleh perbedaan yang sangat berbanding terbalik antara keluarga asli Coraline dan keluarga Othernya. Keluarga Other menjanjikan hal yang lebih dari apa yang Coraline miliki. Sehingga Coraline terbuai akan keadaan sesaatnya. Untuk ruang keluarga ,mengapa hanya lukisan di dinding saja yang berbeda ? hal ini dikarenakan lukisan tersebut menjadi signifier bagi segala perubahan yang terjadi di sekeliling Coraline. Lukisan sebagai symbol dari pergantian kebahagiaan Coraline dan media pengintai dunia cermin terhadap dunia nyata.




G.    Penutup


Dengan penjabaran setting ruang makan dan ruang keluarga film Coraline, saya sebagai penulis berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat untuk bidang studi teori film. film Coraline merupakan salah satu film animasi yang mengangkat tema horror animasi ke permukaan namun secara penceritaan, film Coraline yang lebih blak-blakan dalam memberi petunjuk penggunaan teori yang di aplikasikan dalam filmnya. Karena pada umumnya, teori landasan berpikir sebuah film hanya di tampilkan secara sepintas. Namun pada film Coraline, teori landasan berpikir di perlihatkan secara jelas dan menjururs. Jadi, penonton yang ingin menggunakan landasan berpikir lain agak susah untuk mengaplikasikannya karena penonton tanpa sadar digiring ke pehamaman konsep Other J.Lacan. konsep tersebut dihantarkan oleh tokoh namun penonton digiring melalui apa yang ada dalam setting ruang makan dan ruang keluarga. Ruang keluarga merupakan awal dari pembuka akses untuk mencapai dunia cermin yang dikatakan oleh J.Lacan.

No comments:

Post a Comment