sebenarnya saya sudah lupa dengan segala materi mengenai puisi namun berikut ini saya coba untuk mengingat materi yang tersisa di otak dan alam bawah sadar saya...
CERPEN
1. PENDAHULUAN
Dunia semakin menunjukkan perubahan jaman yang sangat signifikan, semua menuju era digital yang menuntut untuk mengikuti kemajuan teknologi. Budaya menulis secara manual dengan menggunakan tangan sudah memudar,awalnya tergantikan oleh mesin ketik namun kini telah tergantikan oleh komputer. Seiring perkembangan teknologi dalam menulis, berkembang pula gaya penulisan yang makin sederhana dan terasa sangat dekat dengan keseharian. Walaupun keberadaan karya sastra modern yang semakin diminati oleh hal layak ramai, kita tidak bisa meninggalkan karya sastra klasik begitu saja. Karena karya sastra modern berdiri atas dasar perkembangan karya sastra klasik. Pada makalah kali ini penulis ingin menyampaikan bahwa karya sastra modern memiliki kekhususan tersendiri sehingga ia mampu berdiri terlepas dari karya sastra klasik. Bagaimana penulis karya sastra bertutur dalam aliran kata-kata yang ia jabarkan dan menyisipkan nilai moral serta etika di dalamnya sehingga menjadi karya sastra yang patut diperbincangkan oleh orang banyak.
Jakarta, 10 Juni 2010
1.1 LATAR BELAKANG
Kemajuan karya sastra modern sudah menunjukkan eksistensinya pada dunia penulisan. Nilai moral serta etika yang disisipkan sesuai dengan point kehidupan yang seharusnya ditanamkan sejak dini. Kehidupan merupakan suatu hal yang seharusnya dihargai dan dipelajari karena kehidupan teridiri atas fase-fase pendewasaan yang membuat seseorang menjadi pribadi yang matang kedepannya sehingga mampu berdiri tanpa sandaran dan melangkah tanpa bantuan. Yang dibutuhkan untuk menjalankan semuanya hanyalah keberanian menanggung resiko karena hidup penuh menggunakan pola sebab akibat, apa yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan atas sesuatu. Menghasilkan sesuatu dan menyebabkan sesuatu. Oleh karena itu, sebagai manusia yang memiliki akal lebih diatas akal makhluk lain ciptaan Tuhan seharusnya dalam bertindak melihat akibat yang akan ditimbulkan sehingga dalam melangkahkan tapak kaki tidak terjerumus ke dalam lubang yang menyebabkan terperosok dan sulit untuk bangkit kembali. Dalam karya sastra yang akan penulis bahas, nilai moral sangat ditanamkan oleh penulis karya sastra. Hal ini memberikan kontribusi sangat besar terhadap perjalanan sebuah kehidupan bagi manusia dengan keterbatasan fisik maupun non fisik.
1.2 MASALAH
Manusia tidak lepas dari segala keterbatasan walaupun didasari oleh keinginan yang tak terbatas. Apa yang kita peroleh merupakan karunia Tuhan yang diberikan langsung untuk kehidupan kita melalui manusia lain sebagai jembatan penghantar antara anugrah Tuhan dengan pola interaksi manusia sebagai makhluk sosial. Hal yang mendasari penulis berpikir mengenai kekuasaan Tuhan terhadap makhluknya adalah “ apakah Tuhan memberikan suatu kebahagian sebelum makhluknya kembali kepadaNya? “. Pertanyaan tersebut tercipta akibat pergolakan kehidupan yang sangat tajam membuat manusia mempertanyakan kebahagian kehidupan, apakah kebahagiaan dalam kehidupan yang diberikan Tuhan itu hanya sebuah ilusi fatamorgana semata ataukah usaha manusia yang masih kurang dalam mencapai serta memperoleh kebahagiaan itu. Semua yang bersifat ketuhanan masih menjadi misteri kehidupan yang hanya akan terungkap setelah masa pasca kehidupan yakni alam kematian.
1.3 TUJUAN
Sebuah Pertanyaan atas problematika kehidupan belum tentu memiliki jawaban, terkadang jawaban atas pertanyaan hanya bisa direnungi dan tidak bisa diucapkan. Apa yang menjadi rasa keingintahuan seseorang terhadap konsep ketuhanan tidak mudah untuk dijabarkan karena Tuhan bersifat khusus. Tidak mudah menjelaskan Tuhan dengan hitungan matematika, fisika, reaksi kimia atau bahkan dengan bidang ilmu lain yang paling mutakhir saat ini. Suatu pola kehidupan yang tidak seimbang sesungguhnya tetapi manusia haruslah tetap terbatas dalam mencari Tuhan karena keberadaan Tuhan menjadikan seseorang bersikap rendah hati akibat terdapatnya kekuatan yang lebih besar dari padanya serta tetap berada jalur yang tidak menimbulkan resiko besar. Kebahagiaan yang penulis pertanyakan tidak mudah dijelaskan dengan untaian kata-kata semu semata. Hal itu tetap menjadi rahasia Tuhan, kita tetap berusaha dalam menyibak misteri kehidupan. Sebagai manusia biasa, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan tuhan berikan, kapan Ia akan memberikannya serta dimana Ia menitipkan kebahagian itu kepada kita.
1.4 SUMBER DATA
Bahan makalah ini, diambil dari buku:
YASSIN,H.B, Angkatan 66 : Prosa dan Puisi 1, Gunung Agung, 1985, Jakarta
Dengan sumber Cerpen dari salah satu bagian buku tersebut di atas, berjudul
DINI,N.H, Jatayu - Dua Dunia, NV Nusantara, 1956, Jakarta
2. ANALISIS
a. Tokoh
Prita merupakan tokoh utama dalam cerpen ini. Prita adalah seorang gadis yang menderita penyakit malariatropika saat ia menjelang umur empatbelas tahun. Penyakit yang mampu menggerakkan otot dan urat syarafnya tanpa impulse dari otak sadarnya. Prita dikeluarkan dari sekolah karena otanya tak mampu untuk mengikuti pelajaran, otaknya sudah digerogoti kuman-kuman penyakit. Dibesarkan dari keluarga dalang, membuat Prita selalu bermain-main dengan wayang bapaknya setelah ia tidak lagi bersekolah. Selain itu, Prita selalu berdiri di depan rumah dengan tersenyum-senyum atau menunggui penjual rokok di ujung kampung dekat rumahnya. Prita menyukai Jatayu yang merupakan salah satu tokoh pewayangan milik Bapaknya, hanya Jatayu yang tidak dikut terjual ketika Bapaknya menjual sekotak alat wayang lengkap miliknya demi memenuhi biaya pengobatan Prita. Prita selalu memperhatikan cara teman Bapaknya menyalakan dan mengendarai Vespa. Satu keinginan Prita yaitu ingin terbang seperti Jatayu.
b. Alur
Alur yang digunakan oleh NH.Dini dalam bertutur pada cerpennya yang berjudul Jatayu adalah alur maju, semua berjalan maju tanpa ada bagian pengulangan masa lalu. Alur dimulai oleh perkenalan tokoh utama yaitu Prita dengan segala problem kehidupannya serta latar belakang keluarganya kemudian disusul oleh penuturan emosi Prita yang memiliki segala keinginan dan di akhiri oleh pemenuhan keinginan inti Prita yaitu ingin terbang seperti Jatayu yang diwakili oleh dirinya mengendarai Vespa sambil merentangkan tangannya seolah-olah terbang. Dengan ending kematian Prita akibat tidak dapat mengendalikan laju Vespa yang ia kendarai.
c. Time and Space
Cerpen ini tidak mencantumkan informasi tahun serta lokasi kejadian yang spesifik namun dari segala penjabaran informasi yang tersurat, penulis makalah menyimpulkan bahwa cerita di dalam cerpen terjadi pada tahun 1980an dimana vespa sedang merajai Indonesia dan terjadi di daerah Jakarta.
d. Konflik
d.1. Konflik awal
Ketika Prita bersikukuh untuk mempertahankan Jatayu yang akan ikut dijual bersama dengan wayang lainnya oleh Bapaknya.
d.2. Konflik tengah
Ketika Prita berkenalan dengan seorang pemuda dan kemudian ia memperhatikan cara teman Bapaknya mengendarai Vespa.
d.3. Konflik akhir
Ketika Prita memenuhi keinginannya untuk mengendarai Vespa demi menjadi jatayu dalam sesaat tanpa memikirkan segala resiko yang ada.
3. KESIMPULAN
Berdasarkan Pertanyaan “ apakah Tuhan memberikan suatu kebahagian sebelum makhluknya kembali kepadaNya? “ yang diajukan penulis pada awal makalah, maka dapat disimpulkan bahwa kebahagian sebelum kembali kepangkuan Tuhan tidak dapat di jabarkan secara lugas dan tegas karena tindakan tuhan bersifat rahasia dan teknologi manusia belum mampu mengungkap rahasia tersebut. Rahasia tindakan Tuhan yang biasa kita sebut dengan takdir. Takdir merupakan sesuatu yang tidak dapat ditolak ataupun dipungkiri keberadaannya. Ada tiga takdir yang menjadi pertanyaan hingga saat ini yaitu takdir kematian, takdir akan rezeki dan takdir akan jodoh. Belum ada yang mampu memberikan jawaban sebelum itu terjadi. Kemampuan manusia terbatas untuk permasalahan konsep ketuhanan yaitu asas Percaya.
Percaya akan kekuatan paling besar merupakan hal yang sangat abstrak untuk dijelaskan dengan segala konsep realita akan kemajuan teknis manusia. Jadi, kebahagian yang diberikan tuhan pada detik-detik kematian merupakan sebuah fenomena khusus dimana tidak aka nada suatu makhluk di dunia pun yang mengetahui kapan kebahagiaan itu datang.
PUISI
HARI TERAKHIR SEORANG PENYAIR, SUATU SIANG
Di siang suram bertiup angin. Kuhitung pohon satu-satu
Tak ada bumi yang jadi lain : daunpun luruh, lebih bisu
Ada matahari lewat mengendap, jam memberat dan hari menunggu
Segala akan lengkap, segala akan lengkap, Tuhanku
Kemudian Engkaupun tiba, menjemput sajak yang tak tersua
Kemudian haripun rembang dan tanpa cuaca
Siang akan jadi dingin, Tuhan, dan angin telah sedia
Biarkan aku hibuk dan cinta berangkat dalam rahasia
Goenawan Mohammad
Basis, Th. XV No. 4, Januari 1966
Analisa
Puisi tersebut diatas terdiri dari 2 larik yang mengandung 34 suku kata pada bait pertama dan 31 suku kata pada bait kedua. Rima pada Puisi Goenawan Mohammad ini adalah aa-aa. Bait kedua pada baris pertama dan kedua terdapat aliterasi kata Kemudian. Secara pemaknaan, penulis akan membahas perbait puisi dan pada akhirnya akan tercipta sebuah makna dalam yang terkait antar kata dalam puisi.
a. Bait pertama
Di siang suram bertiup angin. Kuhitung pohon satu-satu
Tak ada bumi yang jadi lain : daunpun luruh, lebih bisu
Ada matahari lewat mengendap, jam memberat dan hari menunggu
Segala akan lengkap, segala akan lengkap, Tuhanku
Pembahasan :
Kalimat ini menunjukkan keadaan yang sangat galau dialami oleh pengarang. Hal ini ditunjukkan oleh kata pertama suram yang kemudian diikuti kata berikutnya pada kalimat selanjutnya yaitu kuhitung pohon satu-satu. Keadaan seperti ini adalah keadaan dimana seseorang merasa sangat bimbang, penuh dengan kegalauan, kosong dan kesepian. Kalimat kepasrahan terhadap tuhan ditunjukkan pada bait akhir yang menjelaskan segala kata tanpa kekuatan diwakili oleh pengulangan kalimat segala akan lengkap.
b. Bait kedua
Kemudian Engkaupun tiba, menjemput sajak yang tak tersua
Kemudian haripun rembang dan tanpa cuaca
Siang akan jadi dingin, Tuhan, dan angin telah sedia
Biarkan aku hibuk dan cinta berangkat dalam rahasia
Pembahasan :
Pembahasan :
Pada bait kedua, pengarang menceritakan tentang sebuah harapan yang ditunggu sia-sia karena semuanya hanyalah angan-angan kosong dan pengarang merasa hampa akan keadaan yang sedang ia alami ini. Ia pasrah akan keadaan yang membuatnya tak berenergi dan menjadi seseorang yang mengikuti kemana angin pergi dan membeiarkan segala hal yang ia harapkan menjadi bagian sebuah rahasia kehidupannya.
No comments:
Post a Comment