LOGIKA SUTRADARA DAN RUANG IMAJINER
Sebelum saya membahas lebih jauh mengenai judul bahasan di atas, saya akan memaparkan mengenai dua hal tersebut, yaitu apa yang dimaksud dengan Logika dan Ruang imajiner. Jika di lihat dari sudut pandang orang awam, logika dan ruang imajiner tidak mempunyai hubungan yang signifikan dan sulit untuk di paparkan secara gamblang. Namun, jika di lihat dari kacamata pembuat film khususnya sutradara, kedua hal itu adalah hal yang memang sangat erat hubungannya dalam penciptaan sebuah karya yang berupa film. Dalam sebuah penciptaan karya sastra, logika tidak begitu penting keberdaanya karena sebagian besar karya sastra membutuhkan ruang imajiner yang cukup luas. Hal-hal tersebut amat sulit untuk dicerna begitu saja, maka dari itu kita harus mengetahui definisi dari tiap pembahasan. Sebelum sampai pada materi itu, saya ingin menjelaskan makna dari sebuah definisi karena setelah saya membaca dari beberapa sumber, definisi mempunyai makna tersendiri dan sering kali kita sebagai manusia yang mencari ilmu tidak sepenuhnya menyadari hal itu.
Seorang ahli pikir dari timur tengah pernah mengatakan bahwa sebuah pernyataan tanpa argumentasi adalah pernyataan tanpa ilmu. Hal itu dimaksudkan bahwa setiap hal yang kita ucap atau bicarakan begitu saja dimana pemikiran kita tidak terlibat di dalamnya, sama saja seperti omong kosong belaka. Lalu hubungannya dengan definisi adalah sebagai contoh ketika kita melihat sebuah penemuan baru, maka kita akan bertanya itu apa? Pertanyaan itu merupakan dasar dari pencarian sebuah definisi, setelah sebuah sumber memberikan sebuah pernyataan atas pertanyaan yang kita lontarkan maka kita kan terus mengeruk segala informasi atas penemuan tersebut dengan tujuan akhir kita dapat memahami dan mengerti tentang hal itu dan jika sudah menguasai informasi dari penemuan itu, kita pasti akan tertarik untuk mengaplikasikannya ke dalam kehidupan kita. Definisi diperoleh dari sumber yang memberikan informasi. Aristoteles pernah berkata bahwa definisi adalah pernyataan atau perkataan dari si pembuat definisi.
Jika sebuah definisi diketahui dengan sebuah definisi maka definisi itu harus diketahui dengan definisi lainnya dan begitulah rantai seterusnya. Mungkin agak membingungkan jika pernyataan-pernyataan di atas diserap tanpa menggunakan logika dan ruang imajiner yang berada dalam alam pikiran kita. Kita bisa menyerap kata-kata yang membingungkan tetapi kita tidak dapat memformulasikan kata-kata itu sama saja sia-sia. Logika di awali dari bagaimana kita bisa berpikir logis terhadap segala hal yang kita temui dan menyusun pikiran-pikiran itu di otak kita layaknya reka ulang kejadian yang dilakukan oleh polisi di tempat kejadian perkara, setelah menemukan “ logic “ nya, baru kita dapat memformulasikannnya sehingga menjadi sebuah Way Out yang baru atas sebuah pemikiran. Jika hal itu kita asah dan pelajari, ketajaman analisa kita akan bertambah dan dapat meningkatkan tingkat konsentrasi kita.
Kemampuan manusia untuk berpikir secara logis adalah hasil dari proses yang panjang. Kemampuan ini mendahului penemuan logika formal bukan hanya dalam jangka ribuan tapi jutaan tahun. John Locke menyatakan bahwa “ Tuhan tidaklah demikian acuh terhadap manusia sehingga ia membuatnya menjadi sekedar makhluk berkaki dua dan kemudian menyerahkan tugas membuat mereka rasional “. Jadi dari perkataannya, Locke memberi informasi bahwa Tuhan sudah memberi kita pemikiran yang rasional pada dasarnya, tinggal bagaimana manusia itu sendiri menggunakan pemberian Tuhan yang sudah tersistematisasi secara otomatis dalam otak kita. Dalam sebuah sumber mengatakan bahwa kategorisasi logika tidaklah jatuh dari langit, melainkan bentuk-bentuk ini telah terbangun dalam jalannya perkembangan sosio histories umat manusia. Mereka semua adalah generalisasi paling mendasar atas realitas yang tercermin dalam pikiran manusia.
• LOGIKA
Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Logika merupakan suatu kunci untuk mencapai keberbagai gerbang, seperti ilmu pengetahuan, filsafat, dan sebagainya. Jadi keberadaan logika tidak hanya sebagai pelengkap sebuah kehidupan alam pikir manusia semata, namun juga memiliki kepentingan dalam kehidupan global manusia. Memang, pembahasannya pasti berkisar mengenai pemikiran yang memerlukan konsentrasi dan rasional. Orang awam biasa menyebut si logika ini sebagai masuk akal.
Logika dalam ilmu pengetahuan yaitu dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Sedangkan dari dunia filsafat, logika Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Bahkan pada materi pelajaran matematika kelas XII atau setara dengan kelas III SMA di ajarkan materi logika di dalamnya. Hal ini mungkin dimaksudkan sebagai penghantar perbaikan logika remaja menuju masa dewasa yang akan di hadapi pada jenjang perkuliahan. Hal ini sangat baik dilakukan, tetapi sebenarnya hal ini harus dilakukan sejak sekolah dasar agar generasi Indonesia berikutnya mempunyai daya nalar yang cepat.
Logika itu pada awalnya berasal dari masa yunani kuno, sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta. Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logika induktif. Aristoteles kemudian mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.
Dalam logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:
• Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati)
• Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
• Air jugalah uap
• Air jugalah es
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta. Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika telah mulai dikembangkan. Kaum Sofis beserta Plato (427 SM-347 SM juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini. Pada masa Aristoteles logika masih disebut dengan analitica , yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.
Buku Aristoteles to Oraganon (alat) berjumlah enam, yaitu:
1. Categoriae menguraikan pengertian-pengertian
2. De interpretatione tentang keputusan-keputusan
3. Analytica Posteriora tentang pembuktian.
4. Analytica Priora tentang Silogisme.
5. Topica tentang argumentasi dan metode berdebat.
6. De sohisticis elenchis tentang kesesatan dan kekeliruan berpikir.
Pada 370 SM - 288 SM Theophrastus, murid Aristoteles yang menjadi pemimpin Lyceum, melanjutkan pengembangan logika. Istilah logika untuk pertama kalinya dikenalkan oleh Zeno dari Citium 334 SM - 226 SM pelopor Kaum Stoa. Sistematisasi logika terjadi pada masa Galenus (130 M - 201 M) dan Sextus Empiricus 200 M, dua orang dokter medis yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri. Porohyus (232 - 305) membuat suatu pengantar (eisagoge) pada Categoriae, salah satu buku Aristoteles. Boethius (480-524) menerjemahkan Eisagoge Porphyrius ke dalam bahasa Latin dan menambahkan komentar- komentarnya. Johanes Damascenus (674 - 749 ) menerbitkan Fons Scienteae. Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya Boethius masih digunakan. Thomas Aquinas 1224-1274 dan kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika. Lahirlah logika modern dengan tokoh-tokoh seperti:
• Petrus Hispanus 1210 - 1278)
• Roger Bacon 1214-1292
• Raymundus Lullus (1232 -1315) yang menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar pengertian.
• William Ocham (1295 - 1349)
Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An Essay Concerning Human Understanding
Francis Bacon (1561 - 1626) mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum Scientiarum.
J.S. Mills (1806 - 1873) melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya System of Logic
Lalu logika diperkaya dengan hadirnya pelopor-pelopor logika simbolik seperti:
• Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) menyusun logika aljabar berdasarkan Ars Magna dari Raymundus Lullus. Logika ini bertujuan menyederhanakan pekerjaan akal budi dan lebih mempertajam kepastian.
• George Boole (1815-1864)
• John Venn (1834-1923)
• Gottlob Frege (1848 - 1925)
Lalu Chares Sanders Peirce (1839-1914), seorang filsuf Amerika Serikat yang pernah mengajar di John Hopkins University,melengkapi logika simbolik dengan karya-karya tulisnya. Ia memperkenalkan dalil Peirce (Peirce's Law) yang menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of signs). Puncak kejayaan logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematic tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970). Logika simbolik lalu diteruskan oleh Ludwig Wittgenstein (1889-1951, Rudolf Carnap (1891-1970), Kurt Godel (1906-1978), dan lain-lain. Logika masuk kedalam kategori matematika murni karena matematika adalah logika yang tersistematisasi. Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik). Logika tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M) dan Sextus Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri. Puncak logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).
Logika bukan hanya merupakan satu kesatuan, tetapi juga bisa di bagi menjadi dua yaitu Macam-macam logika:
* Logika alamiah
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.
* Logika ilmiah
Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi.Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.
Kegunaan logika
1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan serta kesesatan.
6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7. Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa )
8. Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis maka akan meningkatkan citra diri seseorang.
“ Kebutuhan pribadi yang mendasar dari setiap orang adalah untuk menganggap dirinya sebagai pribadi yang berharga. “ Lawrence J. Crabb Jr.
Berbicara mengenai citra diri, hal tersebut masih berhubungan dengan materi pembahasan kita kali ini. Citra/Gambar diri adalah gambaran kita terhadap diri sendiri atau pikiran kita tentang pandangan orang lain terhadap diri kita. Gambaran ini terbentuk bertahun-tahun selama kita hidup. . Ia juga merupakan konsep diri tentang individu (Maxwell Maltz dalam Ranjit Singh Malhi,2005, Enhancing Personal Quality). Citra diri seseorang terbentuk dari perjalanan pengalaman masa lalu, keberhasilan dan kegagalan, pengetahuan yang dimilikinya, dan bagaimana orang lain telah menilainya secara obyektif. Kita sering melihat diri kita seperti orang lain melihat kita.
Menurut Mahali (2005),riset menunjukan bahwa kepribadian kita merupakan manifestasi sisi luar dari citra diri kita. Semua kegiatan dan perasaan selalu taatasas dengan hal itu. Ia semacam pilot dan sistem bimbingan otomatis yang mengendalikan dan memprogramkan kita apakah akan berhasil atau gagal mencapai tujuan tertentu. Citra diri sangat dipengaruhi oleh performa kita sendiri. Sementara citra diri memengaruhi perilaku dan perilaku memengaruhi performa. Citra diri dapat membatasi prestasi kita; apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan. Dengan kata lain kita dibatasi hanya oleh keterbatasan citra diri.
Citra diri di bentuk oleh nervo mechanism yang terbentuk dari pikiran atau keputusan yang sadar yang berfungsi sebagai info dan imajinasi komunikasi yang berfungsi sebagai target. Citra diri terbentuk ketika ada seseorang yang mempunyai otoriter memberikan sugesti dan tersimpan ke dalam alam bawah sadar. Citra diri juga terbentuk ketika ada hal yang sama dan terjadi berulang. Hal-hal tersebut akan masuk ke dalam citra diri atau alam bawah sadar dan kemudian terkunci, lalu mengalami proses dalam jangkauan ketidak sadaran dan membentuk sebagai attitude. Untuk mengembalikan citra diri yang rendah, yang pertama sebaiknya kita rajin mengevaluasi diri. Pahamilah unsur-unsur penting yang membentuk diri kita sebenarnya. Apa kekuatan dan kelemahan diri kita? Seberapa jauh kita meyakini diri kita sendiri. Kemudian ”lawanlah” setiap citra diri kita yang lemah.Kurangilah aspek-aspek yang menyebabkan citra diri kita lemah dengan cara memahami mana perilaku baik dan mana yang buruk. Ubahlah citra diri lemah menjadi citra yang kuat lewat upaya berpikir sukses ketimbang berpikir gagal. Dengan kata lain jangan rendah diri. Tidak ada salahnya kita membuat daftar pemikiran negatif dan positif yang ditulis dalam kartu.Lalu secara periodik tengok dan renungkanlah makna setiap isi daftar tersebut dari perspektif yang baru. Tentunya untuk membangun citra diri dalam kehidupan nyata. Pada gilirannya jadikanlah diri kita sebagai sahabat terbaik bagi semua orang.
Mencari Logika sinema itu dapat dilakukan dalam beberapa cara, yaitu :
1. Socrates : self examination dan self analisis
2. Plato : Pengingatan
3. Laten
4. Psycho – cybernetics : harus dalam keadaaan sadar, imajinasikan sasaran, nervo mechanism
Jika melihat sekilas mengenai citra diri, kita tidak akan memahami mengapa bagian ini perlu di bahas. Sebenarnya citra diri adalah unsur kedua setelah logika yang membantu manusia dalam menciptakan dunia imajiner yang berbeda dari dunia imajiner pada individu yang belum mengenal unsure tersebut. Setelah logika manusia terbenahi dan dapat berpikiran jernih serta dapat mengendalikan pikirannya, maka hal yang perlu di benahi adalah pemikiran-pemikiran lawas atau masa lalu yang masih tersimpan dalam memori jauh otak kita yang sewaktu-waktu dapat di ‘ panggil ‘ kembali. Memori yang membekas di perasaan atau pikiran terdalam otak manusia dapat dipilih dan di disimpan dalam recycle bin jika kenyataannya tidak mendatangkan benefit bagi kelangsungan hidup kita. Hal itu membantu kita menyegarkan kembali otak dan mengubah citra diri kita menjadi individu yang lebih baik dari semula. Di katakan oleh seorang phsycologist dari Amerika bernama Tian Dayton bahwa citra diri dapat di ubah melalui “ pemeretelan “ diri, dengan tujuan kita dapat menjadi individu yang mengenal dan mengerti siapa dirinya serta tahu apa yang terbaik untuk masa depan dan hidupnya.
Logika seorang Sutradara diperlukan selalu pada setiap konsep yang ia telurkan karena segala hal yang diciptakan untuk sebuah project adalah hasil buah pikiran ide kreatif utama sutradara. Maka dari itu Sutradara di tuntut berpikir menggunakan akal sehat dan logika yang dahsyat. Sutradara juga haruslah mempunyai pemahaman tentang logika secara mendalam sehingga walaupun berkhayal, Ia masih mampu kembali ke dunia nyata dan tidak begitu terbuai akan khayalannya. Riskan bagi seorang sutradara apabila Ia tidak dapat memisahkan antara dunia nyata dan imajinasi. Sutradara berpikir dengan logika dimaksudkan untuk mempunyai daya khayal akan suatu ide atau gagasan film agar memiliki dunianya sendiri sehingga dapat membawa penonton ke alam “ lain “. Hal ini untuk mengantisipasi keadaan penonton yang selalu mempertanyakan logika sebuah kejadian. Contoh, sebuah film menayangkan adegan pembunuhan sadis tetapi sang korban tidak tewas. Penonton protes, mereka mengatakan “ kalau di bunuh kayak gitu mustinya mati tuh “. Padahal sang sutradara telah mencapai logika berpikirnya dan ia menginginkan bahwa sang korban dalam film tersebut ternyata mempunyai ilmu kebal sehingga ditusuk dengan benda apapun tidak akan tembus ke dalam kulitnya. Sutradara tidak memberikan informasinya tentanng logika berpikirnya sehingga terjadi miscommunication antara filmmaker dan audience. Selain itu Sutradara harus menyusun logikanya di karenakan logika di luar dan di dalam frame bisa beda, mirip atau sama. Walaupun logika in frame memiliki kesamaan yang sangat persis dengan logika outframe tetapi pasti memiliki logikanya sendiri sehingga penonton memang benar-benar merasakan dunia yang beda saat menonton film dan mereka akan terpesona akan film tersebut. Logika juga diperoleh ketika sutradara mencari bahan acuan untuk filmnya sendiri. Seperti, Quotation yang membantu sutradara menemukan logika berpikir terhadap suatu permasalahan yang akan diaplikasikan untuk sebuah film.
• DUNIA IMAJINER
Imajiner adalah dunia yang berbeda dari kenyataan. Dunia imajiner memiliki dimensi yang unik, sehingga membutuhkan konsentrasi dan latihan untuk berinteraksi dengan dunia tersebut. Karya sastra banyak menggunakan dunia imajiner untuk menciptakan suatu karya yang berbeda dari karya yang sudah ada. Seringkali dalam menciptakan suatu karya, seorang pembuat karya melakukan interaksi terhadap karyanya. Maksudnya ketika sebuah karya sastra memiliki tokoh di dalamnya, sang pengarang harus berbicara dengan tokoh yang akan ia ciptakan di dunia imajiner sehingga sebuah karya sastra memiliki ke orisinilitasan dan penuh dengan ide kreasi. Sebagai contoh, dalam cerpen “The Other” dalam The Book of Sand karya Borges. Dalam cerita ini, kembali Borges berkisah tentang dirinya dan “Borges yang lain”. Proses memasuki dunia imajiner Borges seperti berikut, Borges pertama adalah seorang yang duduk di sebuah bangku, suatu pagi di bulan Februari 1969, di tepi Sungai Charles, Cambridge, sebelah utara Boston. Ia merasa penat setelah malam sebelumnya pergi mengajar, lantas tertidur. Sekonyong ia merasa seseorang duduk di ujung bangkunya, dan bersiul. Ia mengenali siulan tersebut, sebuah tembang populer Argentina, La tapera Elias Regules. Setelah percakapan singkat dan si orang bersiul mengaku tinggal di Jenewa sejak tahun 1914, Borges segera tahu orang itu tinggal di Malagnou 17, ditentang sebentang jalan dari Gereja Ortodoks Rusia, dan si orang bersiul tentulah juga bernama Jorge Luis Borges. Demikianlah Borges Tua dan Borges Muda bertukar cakap, di sebuah bangku pada ruang dan waktu yang berbeda. Borges Tua mengenang masa-masa Jenewa-nya, menyebut benda-benda yang dimilikinya di rumah, termasuk tiga jilid terjemahan Alf Laylah wa Laylah (Kisah Seribu Satu Malam). Mereka bertanya-tanya apakah ini sejenis mimpi paralel - keduanya tengah bermimpi? Borges Tua juga mengisahkan apa yang terjadi atas dirinya, sejenis ramalan tepat yang bakal dialami Borges Muda; bahwa ibu mereka baik-baik saja di Buenos Aires, dan ayah telah meninggal tiga puluh tahun lampau. Ia juga meyakinkan bahwa si Borges Muda bakal menulis buku-buku, beberapa berhasil dan membuatnya dikenal, serta menjadi seorang dosen sebagaimana ayah mereka, termasuk juga bakal kehilangan penglihatan. “Tapi jangan cemas. Kebutaan yang perlahan tidaklah tragis,” kata Borges Tua. Kisah ini fantastis, metafisis, sekaligus jenaka. Saya berimajinasi, di umur yang sama (Borges berumur 70 di tahun 1969), si Borges Muda akan duduk di bangku tepi Sungai Charles itu dan berjumpa kembali dengan Borges lain yang duduk di sebuah bangku beberapa langkah dari Rhône, Jenewa, dan cerita berputar tanpa akhir. Suatu labirin ketakterhinggaan. Suatu sumber juga mengatakan bahwa keadaan psikologi yang semacam ini bisa dinamakan duplikasi. Sifat saling merasuki inilah yang memungkinkan seorang Borges menyempal dalam Borges yang lain, menyempal lagi dan lagi hingga tercipta Borges dalam jumlah yang nir-kehinggaan, antara ego dan alter ego, serta alter ego atas alter ego, dan seterusnya. Duplikasi, dalam Borges, dengan demikian juga menyiratkan ketakterhinggaan. Suatu pembelahan tak berujung, persis serupa paradoks Zeno mengenai jarak, 1 maupun kisah lomba lari antara Achilles melawan kura-kura, 2 atau parabel cermin sebagaimana sering dipergunakan Borges sendiri. Dalam setiap Borges, menyiratkan satu “kesamaan yang tak lagi serupa”. Contoh lainnya dalam kisah yang terkenal yaitu kisah seribu satu malam yang menceritakan tentang kisah syahrazad. Perempuan ini dalam dirinya sendiri mengandaikan suatu penggandaan. Paling tidak ia merupakan dua sosok yang segera bisa dikenali: pertama adalah Syahrazad yang memberikan dirinya kepada sang baginda untuk diambil sebagai istri; kedua adalah Syahrazad yang mengulur waktu pemenggalan dirinya dengan mendongeng selama seribu satu malam. Syahrazad pertama adalah salah satu sosok yang diceritakan. Syahrazad kedua adalah sosok yang menceritakan beragam kisah, termasuk kisah tentang Syahrazad yang berkisah. Ketika Syahrazad berkisah sampai ke bagian Syahrazad yang diceritakan, maka Syahrazad yang diceritakan akan bercerita sampai ke bagian Syahrazad mesti mengulur waktu dan berkisah. Bayangkanlah di malam tertentu, kisah ini sesungguhnya berputar tanpa ujung pangkal. Masih banyak lagi contoh mengenai penggandaan diri yang masih termasuk dalam komunikasi dengan dunia imajiner. Sebenarnya ada beberapa anak kecil sudah bisa berinteraksi dengan dunia imajiner. Sebagai contoh lain, pada umur 5 tahun saya bisa bercakap-cakap dengan teman imajinasi saya yang bernama Sandra. Saya kurang mengingat permulaan dari mengenal sosok Sandra ini tetapi Sandra amatlah begitu nyata di pikiran saya tanpa terlihat sosok apapun. Ketika saya merasa kesepian sosok Sandra selalu hadir dan seolah-olah menghibur diri saya. Saya selalu berusaha memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya mengenai sosok Sandra dan saya mendapatkannya melalui dialog rahasia yang hanya saya dan Sandra yang mengerti dan mengetahui. Dialog tersebut berada dalam alam pikiran saya dengan mengutamakan konsentrasi. Setelah saya dewasa dan memiliki kesibukan, sosok Sandra telah sulit saya panggil dan saya ajak komunikasi. Entah mengapa hal itu dapat terjadi, pada awalnya saya hanya menganggap bahwa saya telah sadar dari khayalan imajinasi anak-anak. Namun saya salah, keadaan imajinasi saya bersama Sandra ternyata malah merangsang pikiran saya untuk konsentrasi terhadap suatu masalah yang abstrak namun nyata. Setelah sosok Sandra hilang, saya agak sulit berkonsentrasi terhadap pelajaran atau masalah apapun. Pada suatu saat, ketika saya berada dalam keadaan rileks tanpa pikiran, sosok Sandra tiba-tiba datang dan seolah-olah Ia mengatakan keluh kesahnya pada saya mengapa ia tak pernah lagi hadir dalam pikiran saya lagi. Ia mengatakan bahwa saya sudah mulai meninggalkan alam imajinasi saya dan jarang mempergunakannya lagi. Mungkin saya sudah mulai berpikir dengan mempertanyakan keadaan fisik pada tiap permasalahan. Setelah perbincangan yang cukup lama, akhirnya sosok Sandra bisa datang ketika saya membutuhkannya. Seperti saya kesal terhadap seseorang, saya hanya “ ngedumel “ dalam pikiran saya, Sandara datang untuk menasihati saya dan memberikan solusi terhadap segala permasalahan yang saya hadapi. Untuk menguji kebenaran dari way out yang dihasilkan dari hasil dialog dengan sosok imajinasi itu, saya berkonsultasi kepada teman tentang permasalahan yang saya hadapi. Setelah dua jalan keluar saya pegang, ternyata way out dari Sandra lah yang lebih sering membuahkan hasil. Bisa jadi, sosok imajinasi ini adalah sumber kekuatan pikiran terbesar yang ada dalam diri kita tetapi kita kurang menghargai keberadaannya sehingga hanya beberapa orang saja yang mampu mengasah sumber kekuatan ini menjadi alam dengan dimensi yang berbeda. Dalam Buku it’s my life karya Tian Dayton dalam bab berbicara dengan bayangan sendiri, Ia mengatakan bahwa kita seharusnya berkomunikasi dengan diri kita sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa mengenal diri kita lebih dekat dan mengetahui kekurangan serta kelebihan yang dimiliki oleh diri kita karena banyak dari sebagian orang yang belum mengenal siapa dirinya sendiri dan menghabiskan banyak biaya hanya untuk mengenal dirinya melalui bantuan jasa psikolog. Sebenarnya hal itu bisa kita lakukan oleh diri kita sendiri melalui pemisahan setiap hal yang ada pada diri kita.
Hubungan imajiner dengan logika adalah dalam menciptakan sebuah dunia imajinasi lengkap dengan penduduk imajinasinya, kita harus menset up logika dunia itu walaupun imajinasi. Agak sulit memahaminya tanpa contoh, berikut ini saya berikan contoh dunia imajinasi dengan logika dalam pembuatan sebuah ide film. Seorang sutradara ingin membuat film mengenai sosok Elvis Presley yang pernah terkenal. Selain mencari informasi yang sebanyak-banyaknya mengenai Elvis, sutradara tersebut juga melakukan dialog dengan sosok imajinasi Elvis dan lebih berkonsentrasi terhadap pendalaman karakter Elvis itu sendiri sehingga sang sutradara memperoleh karakter yang ia inginkan dengan mempertimbangkan faktor realita yang diperoleh dari informasi hasil riset. Hal ini juga pernah dilakukan dalam proses pembuatan film El Chante yang mengangkat kisah mengenai penari salsa pertama. Sang sutradara selain melakukan pendekatan riset, Ia juga melakukan pendekatan emosional terhadap karakter yang akan di bentuk. Tidak hanya untuk membuat sebuah film, dalam beberapa kasus saya pernah menemui beberapa orang yang sedang berkomunikasi dengan alam imajinasinya untuk menciptakan sebuah acara. Pada suatu blog, pernah di katakan bahwa berkomunikasi dengan dunia imajinasi amatlah efektif dan membantu menemukan solusi terdalam dari sebuah masalah. See, begitu pentingnya sebuah dunia khayal dalam realita kehidupan kita saat ini dan berkembang luas. Namun belum semua orang dapat menemukan dan menggunakannya. Hanya orang-orang yang dapat mengontrol pikiran dan mempunyai tingkat kesabaran yang cukup dapat menembus dunia imajiner dan bisa kembali utuh kepada dunia nyata. dalam blog itu, si pembuat blog mengatakan bahwa Ia berbincang dengan Adolf Hitler pada waktu senggang di alam imajinasi. Dari perbincangannya, ia berhasil menjadi pencetus sebuah event di kantornya yang bergerak di bidang otomotif dan acara itu sukses besar. Pada perbincangannya, Hitler memberikan gagasannya dengan tegas dan terbuka. Kembali lagi kepada kekuatan pikiran kita menerima hal-hal tersebut yang mungkin kurang bisa diterima akal sehat namun nyata dan telah terbukti keberhasilannya. Contoh percakapannya,
Nasduk (sebagai pewawancara yang kemudian disingkat N) :
” Sejak kapan Bro Hitler menyukai kendaraan roda dua”.
Hitler (sebagai yang ditanya, kemudia disingkat H) :
”Saya menyukai kendaraan roda dua sejak usia lima belas tahun, yang waktu itu di jerman lagi maraknya kendaraan roda dua lansiran Amerika, seperti Harley Davidson, BSA dan AJS, karena orang tua saya juga sangat hobi akan kendaraaan darat itu, apalagi di desa saya Braunau am Inn, Austria diselatan Jerman merupakan daerah berpasir, dan ayah saya (Aloi Hitler) suka mengajak saya dan saudara kandung saya ke persawahan dengan menunggang kendaraan roda dua”.
N : ”Selain untuk ke persawahan, pengalaman menunggang kendaraan roda dua kemana saja Bro”.
H : ”Setelah ayah saya pensiun, saya dan keluarga pindah ke kota Lambach, dan kesempatan itu juga dilakukan dengan mengendarai kendaraan roda dua yang dtambah sespan (tumpangan samping, mirip bentor di Medan), nah sejak itu saya dan keluarga merasakan awal dari kehidupan yg terus berpindah-pindah di masa pensiun ayahnya”.
N : ”Sampai kapan Bro Hitler hidup berpindah-pindah dengan menggunakan sepeda motor roda dua”.
H : ”Sampai hampir dewasa bro, tetapi ketika beranjak dewasa, karena saya memiliki cita-cita ingin menjadi seorang seniman, dengan jerih payah saya membeli kendaraan roda dua yang saya dandani benar-benar nyentrik, bahkan pada saat saya mengikuti ujian masuk perguruan tinggi seni di Wina, Austria kemanapun saya pergi menggunakan sepeda motor roda dua, namun saya gagal masuk di perguruan tinggi itu, bahkan saya pernah menjadi seorang tunawisma di kota Wina”.
N : “Apa pesan Bro Hitler sebelum anda kembali ke alam Sunyaragi (maksud penanya ’alam kubur’ penanya takut kalau tiba-tiba Bro Hitler marah dan ngamuk)”.
H : “Oke, saya hanya berpesan, bersatulah para komunitas pengendara sepeda motor di Indonesia, bantulah pengendara lain pada saat ada kesusahan di perjalanan, jaya HTML, dan saya juga mengucapkan selamat ulang tahun yang ke tiga kepada Depok Tiger Club, semoga sukses selalu, dan titip salam buat rekan-rekan NOLIMIT BIKER’S COMMUNITY, cobalah selalu minta nasehat kepada komunitas yang lebih senior dalam hal safety riding”.
N:“Terimakasih Bro Hitler”
Dari percakapan di atas dapat terlihat bagaimana sang penanya dapat memperoleh informasi yang cukup banyak dari Adolf Hitler walaupun sang penanya tidak mengetahui hal apapun yang berkaitan tentang Hitler. Bahkan Hitler memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Depok tiger club yang jelas-jelas, sang penanya tidak punya informasi tentang hal itu dan Ia kebetulan tidak tinggal di wilayah Jabodetabek melainkan di daerah Yogyakarta. Pengalaman komunikasi dengan Hitler ini, Ia peroleh ketika tidur siang di bawah pohon rindang dekat alun-alun.
Aplikasinya terhadap dunia kreatif seperti film, sebagai sutradara dituntut untuk menciptakan sebuah visual yang memiliki kekeuatan tersendiri dan berbeda dari visual sutradara yang lain. Maka dari itu seorang sutradara harus bisa berada diantara dua dunia yang berbeda, yaitu dunia imajiner atau dunia buatan alam pikiran dan dunia nyata. dua dunia itu harus bisa dikombinasikan sehingga dapat menjadi sebuah kesatuan yang mendukung terciptanya sebuah logika dalam dunia imajiner. Karena tidak dapat dipungkirkan, seabstrak-abstraknya suatu lukisan pasti punya logikanya sendiri yang bisa membuat orang mengerti akan karya tersebut. Begitu pula yang terjadi pada film, se art-artnya sebuah film, sang sutradara pasti telah menset up logikanya dalam berpikir dan merangkai keutuhan cerita sehingga dapat menjadi sebuah sajian yang bisa dinimati banyak pihak. Memang tidak semua orang bisa secara utuh menikmati karya yang terlalu imajiner, tetapi jika di telaah setiap makna yang terkandung di dalmanya, penonton awam pun akan mengerti apa yang berada di balik keimajineran sebuah film atau karya. Dalam film, pentingnya dunia imajiner amat dibutuhkan oleh sutradara untuk menciptakan sebuah dunia dalam frame yang dapat di ciptakan melalui elemen-elemen yang terangkum ke dalam sebuah kata yang bernama Mise En Scene. Mise En scene terdiri dari gesture, setting, costume/ make up dan lighting. Elemen-elemen mise en scene tersebut bisa kita peroleh melalui kunjungan alam pikiran kita ke dunia imajiner. Dunia imajiner sama seperti dunia tanpa batasan ilmu pengetahuan, layaknya sebuah perpustakaan terlengkap. Tinggal bagaimana kita mencari data dari informasi yang kita butuhkan tersebut dan bagaimana cara kita menggali informasi itu. karena dunia imajiner memiliki logika berpikirnya sendiri sehingga agak sulit bagi sutradara yang belum paham mengenai konsep logika atau imajiner.
No comments:
Post a Comment