Mendengar kata Sutradara, mengingatkan saya pada sahabat-sahabat saya yang tidak mengetahui dunia pekerja film. Mereka hanya mengenal sosok makhluk bernama sutradara yang diketahui sebagai satu-satunya kekuatan terbesar di balik layar sebuah film. Sebenarnya, sutradara adalah seorang pemimpin kreatif yang memiliki daya cipta dalam menciptakan visual sesuai dengan naratif yang telah tercipta. Namun, kinerja sutradara juga harus mendapat dukungan dari department yang lain sehingga imaji gerak yang bercerita bisa tercipta secara utuh. Seorang sutradara mempunyai tiga kunci yang menjadikan dirinya sebagai pihak yang sempurna yaitu talk, right and describe. Talk adalah kunci bagaimana seorang sutradara “berbicara” melalui konsep visualnya. Right adalah bagaimana sutradara “bertindak” dalam ruang yang ia akan ciptakan dan Describe adalah bagaimana sutradara “menjelaskan” pemikirannya melalui rangkaian gambar bergerak yang bercerita menjadi sebuah sajian yang dipahami oleh penonton. Pemikiran sutradara diawali oleh sebuah pernyataan yang diungkapkan melalui premise. Pernyataan pada akhirnya menimbulkan argumentasi yang mengakibatkan adanya thesis dan antithesis. Hal itu bergantung pada unsur visual seperti mise en scene dan didukung pula oleh naratif yang ada pada framing sebuah film. Sebuah argumentasi dikuatkan oleh prinsip umum yang menjadi garansi premise sutradara diterima oleh penonton. Premise adalah hal mutlak yang tidak dapat ditawar oleh sutradara sehingga mengharuskan seorang pemimpin kreatif yang bernama sutradara memahami alasan dibalik pemilihan sebuah premise berdasarkan symptomatic meaning yang ia peroleh atas hasil observasi dan bukti. Ahli pikir dari timur tengah pernah mengatakan bahwa pernyataan tanpa argumentasi adalah pernyataan tanpa ilmu sehingga apabila ini tidak dilakukan oleh seorang sutradara sama halnya ia seperti provider telekomunikasi, yang hanya memproses jaringan penyambung pesan, memberi layanan yang mempermudah pengguna tanpa memperdulikan keilmuan didalamnya. Seperti perkataan Socrates dalam ION “ If one didn’t understand what the poets says, one would never become a good rhapsode”. Dalam konteks ini, hal tersebut dimaksudkan bahwa seorang sutradara harus benar-benar memahami premise yang ia pilih untuk dijadikan sebagai landasan berpikir dan konstruksi dasar pada filmnya. Jika hal dasar saja tidak benar-benar dipahami oleh seorang sutradara, maka ia tidak dapat menjadi the creative boss yang baik. Setelah premise dan symptomatic diperoleh, hal yang berikutnya harus dilakukan oleh sutradara adalah mencari landasan berpikir kedua yaitu Quotation yang menjadikan arah pandang sutradara agar tidak melenceng ke arah lain diluar konteks. Quotation diperoleh dari sebuah pemikiran atau cara pandang seorang pemikir terdahulu yang dipercaya oleh umat manusia dan dapat mengubah cara pandang pada sebuah kehidupan. Setelah landasan tersebut dipahami terhadap karya yang akan dibuat, hal selanjutnya yang harus ditempuh oleh seorang sutradara adalah mencari pointers untuk diaplikasikan pada dasar pemikiran. Kemudian barulah mencari logika umum dan logika karya untuk menyamakan persepsi antara logika-in-frame dan logika-out-frame karena pada dasarnya logika menyelidiki hubungan ucapan atau kalimat yang ada pada landasan berpikir berupa quotation dengan kenyataan pada kehidupan. Langkah yang harus ditempuh dalam melakukan aktifitas “penyelidikan” itu ada tiga tahap yaitu mengerti, memahami dan menyimpulkan atau mengaplikasikannya. Setelah ketiga tahap itu sukses dilakukan, sutradara harus menembus batas antara dunia nyata dan dunia rahasia kekuatan pikiran.
Kekuatan pikiran adalah kekuatan terbesar yang dimiliki oleh manusia. “ what moves you is a divine power “ ( Socrates ). Pada hakikatnya, semua manusia telah bersatu dengan kekuatan tersebut. Namun ada yang untouchable dan touchable. Untouchable ketika seorang tidak pernah menggunakan kekuatan pikirannya sebagai sebuah kekuatan alami yang diberikan oleh tuhan kepada dirinya sehingga kekuatan pikiran hanya berfungsi sebagai media pemikir singkat, hal ini terjadi pada masyarakat yang memiliki pendidikan minim. Berbeda dengan untouchable, pemikiran touchable adalah pemikiran dimana kekuatan pikiran merupakan sumber inspirasi utama dalam kehidupan, biasanya terjadi pada masyarakat industri kreatif yang selalu mengedepankan inovasi ide. Pemikiran yang touchable terjadi ketika pemikiran selalu diasah dan dilatih melalui daya imajiner dan konsentrasi. Dunia rahasia pikiran ini atau yang dikenal sebagai imajiner sangat membantu sutradara menemukan kekuatan pada daya cipta naratif karena sutradara mampu memasuki dunia karakter yang akan ia bangun. Dunia imajiner memiliki dimensi yang unik, sehingga membutuhkan konsentrasi dan latihan untuk berinteraksi dengan dunia tersebut. Hubungan imajiner dengan logika adalah dalam menciptakan sebuah dunia imajinasi lengkap dengan penduduk imajinasinya, kita harus menset up logika dunia itu walaupun imajinasi. Dua dunia itu harus bisa dikombinasikan sehingga dapat menjadi sebuah kesatuan yang mendukung terciptanya sebuah logika dalam dunia imajiner. Karena setidak masuk akalnya suatu karya pasti ia punya logikanya sendiri yang bisa membuat orang mengerti akan karya tersebut. Sebagai contoh penggunaan imajiner, pada buku “ Don Quixote “. Dalam buku itu, Quixano sering kali menghilang dari orang sekitarnya karena selalu membaca buku setiap saat, akhirnya ia memutuskan untuk pergi keluar dan menganggap dirinya sebagai ksatria yang sedang berpetualang, menggunakan pakaian perang dan mengubah namanya menjadi Don Quixote de la Mancha serta menamakan kudanya dengan nama Rocinante dan ia menset-up dunia sekitarnya dengan mengubah segala hal yang ia temui sesuai dengan imajinasinya hingga suatu penginapan, ia imajinasikan sebagai sebuah kastil. Logika yang ada pada Don Quixote adalah Quixano menset-up lingkungannya menjadi lingkungan ksatria dengan unsur-unsur pakaian peperangan, setting tempat yang seolah-olah berada pada zaman kekastilan dan nama-nama yang ia ciptakan. Dalam cerita itu Quixano terlalu bersemangat membaca buku dan merangsang daya imajinasinya terhadap bacaan itu serta mencoba untuk menerapkannya pada dunia nyatanya. Pola tingkah laku Quixano mirip dengan pola tingkah laku yang harus diterapkan oleh sutradara dalam menciptakan sebuah dunia. Unsur-unsur yang diciptakan oleh Quixano merupakan bagian dari mise en scene yang lagi-lagi harus dipikirkan oleh seorang sutradara, mise en scene terdiri atas gesture, make up dan wardrobe, lighting dan setting. Unsure-unsure mise en scene tidak mungkin berada secara terpisah karena apabila mereka dipisah, suatu film tidak akan menjadi sajian yang menarik dan film itu akan kuat bertahan pada pikiran penonton yang men-judge film itu sebagai not a film.
Sutradara adalah orang utama yang bertanggung jawab atas visual dan naratif cerita karena ia seperti main role dalam pertunjukkan teater dan presiden pada sebuah negeri. Visual yang ia bangun memperoleh bantuan seorang sinematografer dan artistic dalam menciptakan look serta mood. Look lebih condong kepada hal yang berbentuk fisik, namun mood merupakan hal yang abstrak. Kekuatan feel seorang sutradara sangat dibutuhkan disini, sutradara harus bisa merasakan suasana tempat yang akan digunakan sebagai lokasi syuting, setelah itu mulailah sutradara memasuki dunia imajiner sebagai pengaplikasian mood dunia nyata dengan dunia yang akan dia ciptakan. Kemudian bersama-sama sinematografer menciptakan mood yang ingin dicapai sehingga menjadi sebuah hal yang real dan konkrit menjadi sebuah imaji yang berada pada frame. Mind set sutradara selalu visual, hal itu dikarenakan karya yang diciptakannya adalah sebuah film yang mengutamakan hal yang terlihat dan terdengar sesuai dengan realita walaupun tidak sempurna seperti kehidupan sebenarnya.
• VISUAL
Pada sebuah blog dikatakan bahwa visual adalah segala hal yang terlihat dan menjadi sebuah tanda. Tanda mewakili konsep dan hubungan konseptual antar tanda yang menyusun system pemaknaan. Visual dalam film merupakan konsep-konsep yang akan dipertukarkan dalam proses representasi. Lalu muncul teori representasi, antara lain :
1. Pendekatan reflektif
Bahasa merupakan cermin sehingga merefleksikan makna sesungguhnya dari apa yang benar-benar terjadi di dunia nyata.
2. Pendekatan intensional ( bertujuan )
Pembuat film adalah pihak yang memberikan pemaknaan pada dunia melalui bahasa yang digunakan.
3. Pendekatan konstruksionis
Kita semua mengkonstruksikan pemaknaan menggunakan sisitem representasi. Ini membedakan dunia material ( yang terlihat ) dan praktik simbolis serta proses dimana representasi , pemaknaan dan bahasa beroperasi.
Jadi, berdasarkan penggalan sebuah blog diatas dapat dikatakan bahwa visual itu bukan hanya imaji yang ada pada sebuah frame dan dapat dilihat oleh indera penglihatan yang diwakili oleh mata dengan keajaiban system intermitten movement sehingga sebuah visual dapat tertangkap oleh mata tetapi juga harus meliputi “sense of visual”, rasa dari visual. Ketika sebuah visual tanpa rasa tercipta, penonton akan melihat film tersebut seperti makan garam tanpa rasa asin. Ada bentuknya sebagai garam tetapi bentuk garam tidak menjadi sebuah garam yang lengkap dengan rasa asinnya, hanya sebagai bentuk tanpa arti. Dunia visual dalam film sangat penting keberadaannya karena visual memiliki peran utama dalam imaji bergerak yang terdapat pada sebuah layar dengan batas atas bawah dan kanan kiri.
Sebagai contoh sebuah visual memegang peranan dalam sebuah penceritaan, anda membaca pada sebuah buku yang berjudul “ kuntilanak “, pasti anda langsung membayangkan sosok wanita berambut panjang, berbaju putih dan muka hancur. Nah! Hal yang anda bayangkan sudah termasuk sebagai visual hanya bedanya visual tersebut berada pada alam pikiran anda. Tetapi dalam film sosok kuntilanak bisa dihadirkan dalam frame dan orang lain dapat melihat sosok itu bersama-sama dengan anda. Beda dengan visual alam pikir anda yang hanya anda dan Tuhan beserta malaikat pencatat amal perbuatan yang mengetahuinya. Contoh lainnya, Anda berada di sebuah ruang gelap. Di hadapan Anda, tampak seorang perempuan muda sedang menyusuri kamar-kamar kosong dan gelap. Wajahnya tampak ketakutan. Ia merasa ada yang mengikuti, atau ada yang tersembunyi di rumah itu. Perempuan muda itu menengok ke kanan, ke kiri, dengan cemas. Anda sendiri tahu pasti, sangat pasti, bahwa sesuatu akan terjadi. Perempuan itu tiba-tiba tercekat, ia menyadari sesuatu. Dan tiba-tiba....AAARGGH!! , apa yang anda bayangkan ketika membaca tulisan tersebut ?. Takut? Tegang? Panik?, rasa yang saya sebutkan merupakan hanya sebuah ekspresi terhadap suatu hal yang memberi impresi tertentu kepada daya visual tak terlihat anda. Proses visual tak terlihat sebagai berikut : anda membaca sebuah kata atau kalimat, kemudian anda menata kata demi kata di alam pikiran anda yang pada akhirnya membentuk sebuah visual unseen ( visual tak terlihat ) yang hanya individu itu sendiri yang mengetahuinya, setelah itu anda mencoba merasakan visual tak terlihat itu sehingga membentuk rasa terhadap visual dan finally memberi impact terhadap anda. Fenomena visual sangat dimanfaatkan pada dunia perfilman yang semuanya serba visual. Contohnya, penggambaran tokoh-tokoh tertentu, bisa dengan mudah memancing rasa pada penonton: para “monster” yang biasanya digambarkan bersosok aneh dan cacat. Ada monster hasil penyimpangan alam, seperti mutan, “alien”, atau tubuh-tubuh “abnormal”. Ada monster yang mengatasi alam (supernatural), seperti vampir atau drakula atau setan dari neraka. Semua aspek itu harus digambarkan secara real dan terlihat sehingga penonton dapat menyamakan persepsinya mengenai sebuah bentuk dengan pembuat film itu. Seperti kata Greg McLean, ketika ditanya soal adegan-adegan penyiksaan yang amat realistis dalam filmnya, Wolf Creek, yang menyebabkan sebagian penonton (perempuan) berhamburan keluar bioskop, “...aku percaya, adalah tugas seorang seniman ...untuk ‘tak memalingkan wajah’ dari dunia kita dan dari pengalaman manusia: baik momen-momen tergelap kita maupun momen paling membahagiakan kita.” (Empire, November 2005)
Visual yang dihadirkan pembuat film tidak selamanya diterima secara utuh oleh penonton karena sama halnya dengan logika-in-frame dan logika-out-frame yang bisa sama, mirip atau berbeda. Visual yang sama adalah visual yang terjadi dan hanya terlihat pada sebuah film dan belum ada media lain yang menjelaskan seorang figure, sebuah tempat atau sebuah situasi. agak sulit mencernanya, maka saya akan memberikan contohnya sebagai berikut DEWI. Apa yang anda bayangkan dengan sebuah kata yang diwakili oleh kata dewi? Tentunya wanita, tetapi penampilan fisik dari sosok bernama dewi itu anda tidak dapat menyimpulkannya menjadi sebuah visual kecuali anda pernah mengenal seseorang yang bernama dewi sebelumnya dan terekam di alam bawah sadar anda visualisasi dari sosok bernama dewi. Ketika seorang sosok ditampilkan untuk pertama kalinya oleh pembuat film, maka anda akan langsung menyetujui bentuk dari seorang dewi sesuai denga visualisasi yang diberikan oleh pembuat film. Ketika film itu berangkat dari cerita buku best seller atau roman ternama, film akan memberikan dua kemungkinan kepada penonton yang sebelumnya menjadi pembaca dari karya itu.
Visual bisa mirip pada saat pembuat film dengan pembaca atau statusnya telah berubah menjadi penonton itu memiliki kesamaan persepsi terhadap setiap aspek yang ada pada media sebelumnya. Contoh pada novel “ A series of unfortunate events “, dikatakan Sunny adalah seorang anak kecil yang suka menggigit apapun. Pembaca mendesign sosok Sunny dipikirannya masing-masing. Kemudian filmnya muncul dan pembaca berubah nama menjadi penonton dan memperhatikan sosok bernama Sunny. Dalam film itu, Sunny di visualkan sebagai anak balita yang belum bisa bicara dengan kekuatan gigi yang bisa menggigit apapun. Visual pembuat film tidak berbeda jauh dengan pembaca, hanya terdapat sedikit perbedaan saja.
Visual bisa sangat jelas berbeda ketika antara pembaca dan pembuat film tidak bertemu konstruksi visualnya, hal itu sebenarnya sangat manusiawi karena setiap makhluk yang bernama manusia memiliki pandangan, pemikiran serta pembentukan visual unseen yang berbeda. Tetapi konsekuensi yang diambil ketika pembuat film mengangkat sebuah karya sastra menjadi sebuah film adalah pembuat film dituntut untuk menciptakan segala aspek yang terdapat dalam karya tersebut semirip mungkin dengan apa yang dideskripsikan dalam media sebelumnya itu. sebagai contoh, pada novel Harry Potter jilid pertama, Harry Potter dideskripsikan sebagai sosok yang kurus, rambut yang acak-acakan dengan kacamata yang retak. Tetapi apa yang kita lihat pada film Harry Potter ? Harry sebagai sosok tampan dengan tubuh yang tidak kurus dan kacamata mulus tanpa retakan. Lihat betapa berbeda bukan, seorang teman pada masa sekolah saya dulu adalah seorang fans berat novel Harry Potter dan ketika saya yang pada saat itu sangat enggan membaca novel Harry Potter dengan ketebalan beratus-ratus halaman bersama-sama menonton film Harry Potter tersebut. Pada saat film diputar tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami berdua, karena saya tidak tahu penggambaran sosok Harry pada novel, jadi ya.. saya nikmati saja. Lain halnya dengan teman saya itu, raut wajahnya menunjukkan raut setengah kekecewaan. Setelah film usai dan lampu studio menyala kembali, teman saya langsung mengatakan kekesalannya pada saya atas visual dari Harry. A sebagai teman saya dan B sebagai saya serta seterusnya.
A : “ yang bikin film, benar-benar baca novelnya apa nggak sih? “
B : “ lho, memangnya kenapa? Bukannya filmnya bagus banget ya?”
A : “ bagus sih, tapi masa’ Harry ganteng begitu? “
B : “ lah, bukannya kayak gitu ya? “
A : “ di novelnya itu, Harry Potter itu kurus, jelek dan kacamatanya retak. Eh, di filmnya jadi sosok yang tampan, nggak berantakan rambutnya dan kacamatanya bebas dari keretakan”.
Lihat, betapa berbeda visual yang dihadirkan sang pembuat film dengan pendeskripsian figur yang ada pada novel. Perbedaan yang diciptakan bukanlah karena seorang pembuat film tidak paham atas sebuah sumber yang ia angkat. Hal itu terjadi karena pembuat film tidak dapat memvisualkan isi novel secara utuh atau pembuat film memiliki konsep tertentu terhadap media sebelumnya yang akan membuat film itu lebih berciri sebagai film bukan sebagai novel yang di filmkan. Apabila film diangkat dari sebuah media, para pembaca akan lebih dahulu memvisualkan kata demi kata serta kalimat demi kalimat sehingga akan terjadi perbedaan dalam masalah visual unseen yang ada pada benak pembacanya masing-masing dengan visual seen yang terlihat pada framing sang pembuat film.
Visual tidak akan menjadi hidup tanpa adanya efek suara yang membangun suasana dalam pengadeganan film secara utuh. Kadang, ada film-film yang menyentuh syaraf ngeri seolah secara universal melintas waktu dan tempat (budaya). Elemen-elemen tertentu dalam film, apalagi yang dihidupkan dalam bioskop, dapat dieksploitasi untuk menghasilkan efek menakutkan pada penonton secara umum. Misalnya, musik bernada rendah, seringkali dari alat-alat gesek atau organ, lazimnya memberi suasana spooky atau angker. Jika tiba-tiba musik itu menjadi bising yang mengejutkan, atau meninggi nada dan suaranya, maka rasa takut pada penonton pun akan terpancing. Misalnya, musik yang bagai menjerit-jerit pada adegan shower dalam film Psycho (Alfred Hitchcock). Efek suara yang mengejutkan memang teknik termudah memancing rasa takut. Bukan hanya musik, sumber-sumber bunyi lain pun bisa dieksploitasi. Misalnya, suara guntur, jeritan, raungan, dan sebagainya. Apalagi jika dijalin dengan unsur visual seperti setting waktu (misalnya malam, apalagi ketika hujan lebat) dan tempat (seperti gedung tua, atau kuburan). Contoh pada visual berikut, Anda berada di sebuah ruang gelap. Di hadapan Anda, tampak seorang perempuan muda sedang menyusuri kamar-kamar kosong dan gelap. Wajahnya tampak ketakutan. Ia merasa ada yang mengikuti, atau ada yang tersembunyi di rumah itu. Perempuan muda itu menengok ke kanan, ke kiri, dengan cemas. Anda sendiri tahu pasti, sangat pasti, bahwa sesuatu akan terjadi. Perempuan itu tiba-tiba tercekat, ia menyadari sesuatu. Dan tiba-tiba....AAARGGH!! , suasana tersebut akan lebih terbangun apabila unsure suara dimasukkan seperti suara degupan jantung, suara seretan kaki, deritan pintu-pintu dan suara pintu yang menutup kencang akibat angin. Pasti anda akan bertambah seram dua kali lipat dibanding hanya visual saja yang terlihat.
Film dengan visual yang baik adalah film yang menggunakan fungsi mise en scene dengan baik. Pada unsure mise en scene berupa setting menjelaskan segala hal yang terlihat dalam frame serta membantu penonton mendapatkan informasi tentang sebuah ruang, pekerjaan seorang yang memiliki ruang tersebut, hobby dan sebagainya. Contoh, sebuah setting ruang terdapat sebuah ranjang besar, dua buah meja nakas beserta table lampnya, satu unit AC dengan remotenya yang menempel pada dinding tepat dibawah AC, sebuah buffet kayu panjang yang diatasnya terdapat sebuah televisi berdesign elegan, sebuah meja rias lengkap dengan kursinya serta sebuah lemari besar, keseluruhan benda-benda yang ada disitu memiliki motif dan warna yang seragam. Berdasarkan benda-benda yang terlihat, dapat disimpulkan bahwa ruangan tersebut merupakan sebuah ruangan tidur mewah dan yang tinggal disitu merupakan orang dengan tingkat status social yang tinggi.
Kemudian untuk unsure mise en scene yang berupa makeup dan wardrobe memberikan informasi mengenai keadaan tokoh tersebut, tingkat status sosialnya dan lain-lain. Sama dengan setting, saya akan memberikan contoh untuk make up dan wardrobe. Seorang tokoh berbaju compang-camping, berwajah kusam, rambut tidak akruan, tanpa alas kaki dan tubuh terlihat kusam. Berdasarkan deskripsi tersebut, kita bisa menyimpulkan kalau tokoh tersebut merupakan sosok gelandangan atau orang gila yang terlantar di jalan.
Selanjutnya pada unsure mise en scene berupa lighting, memberikan informasi tentang waktu dan jenis film. contoh pada film Kala karya Joko Anwar diperlihatkan filmnya yang cenderung gelap pada hampir tiap scenenya, berdasarkan gaya pencahayaan film Kala ini termasuk film noir yang selalu mengedepankan contrast yang tinggi. Sedangkan lighting untuk informasi waktu terdapat pada semua film yang membedakan waktu siang atau malam, biasanya dilakukan pada adegan interior karena adegan eksterior sudah jelas perbedaan waktunya.
Unsure mise en scene yang terakhir adalah gesture atau gerak tubuh. Gesture bisa memberikan informasi kepada penonton berupa sifat, kebiasaan dari seorang tokoh, perubahan sikap dan sebagainya. Contoh, seorang tokoh setiap saat mengelap dahinya yang mengeluarkan keringat walaupun terlihat berada pada ruangan ber-AC, saat berbicara ia selalu tergagap-gagap dan pada saat mengambil minum, ia menumpahkannya. Keadaan seperti itu memperlihatkan tokoh yang sedang gugup karena menghadapi sesuatu.
Begitu pentingnya unsure visual sangat memberi informasi yang mendalam pada sebuah karakter tokoh, latar belakang kehidupan, status social, dan lain sebagainya. Tetapi dengan fungsi mise en scene yang dahsyat seperti itu, jika sang sutradara tidak bisa memanfaatkannya sama saja film itu tidak memiliki kekuatan visual. Film-film saat ini yang selalu berbicara menggunakan kata-kata setiap tindakan yang dilakukan, berbicara seorang diri ketika tidak ada lawan bicara disekitarnya dan lain-lain. Apakah termasuk film yang pada awal kemunculannya tanpa suara seperti Milies, walaupun film yang ia hadirkan berupa drama teater yang kompleks pada masanya. Ia memberi pengajaran kepada kita bahwa kekuatan visual adalah kekuatan yang memberikan sumbangan terbesar untuk dunia perfilman karena disana menuntun sutradara untuk memberi informasi kepada penonton dengan jelas tanpa adanya pemaparan melalui perkataan ataupun dialog. Mulai pada masa film Jazz Singer yang sebenarnya memanfaatkan kemunculan suara yang masih spektakuler pada jaman itu sehingga membuat Jazz Singer menjadi film talkies pertama yang sudah tidak begitu mempedulikan unsure kekuatan visual di dalamnya. Seiring perkembangan tekhnologi, pembuat film mulai sadar akan pentingnya visual dalam sebuah film. Maka saat ini, kekuatan Visual dan Suara telah mencapai titik keseimbangan namun belum stabil.
Visual adalah hal yang patut dijunjung tinggi dalam dunia perfilman karena secara histories, film diciptakan Lumiere tanpa suara hanya melalui visual non-naratif. Kita sudah mengerti maksud dari gambar-gambar yang bergerak itu. Kemudian disusul Milies yang mengangkat drama teatrikal ke dalam sebuah alat baru pada masa itu berupa kamera film dan menghasilkan film pertamanya yang berjudul trip to the moon. Pada masa Milies, film sudah mulai bercerita ( naratif ) sehingga menjadi sajian yang berbeda dari masa Lumiere.
• NARATIF
Naratif berasal dari Bahasa Inggris narrative yang berarti cerita. Sebagai media rekam, film menyajikan gambar figurative dalam bentuk objek-objek fotografis yang dekat dengan kehidupan manusia. Naratif atau cerita yang kita ketahui biasanya berbentuk novel, karya sastra dan lain-lain. Penelitian Roger Odin (Cinéma et production de sens ‘Sinema dan Produksi Makna’, 1990) mencoba lebih fokus lagi dengan membasiskan film sebagai produk bahasa. Dengan proposisinya itu Odin membangun pendekatan disipliner objek sinema melalui pendekatan semio-linguistique. Pendekatan Odin bermaksud mengurai mekanisme produksi makna. Dalam sebuah sumber dikatakan bahwa ketika sinema sebagai suatu kreasi artistik mulai diperkenalkan di Prancis, selepas PD II, ada usaha-usaha untuk membangun paramasastra sinema (grammaires du cinéma) dalam rangka memahami sinema seni yang bergantung pada bahasa. Pendekatan sinema dalam model itu sangat menekankan upayanya pada pembentukan paramasastra (estetika) normatif. Melalui pendekatan estetika normatif tersebut, bahasa sinema tidak dioposisikan dengan sistem bahasa, tetapi justru beroposisi dengan sastra. Usaha ini, untuk
sementara, dipandang masih menganut suatu logika berpikir yang lazim. Artinya, paramasastra sinema tersebut dalam faktanya selalu berakhir pada rumusan bagaimana membuat film yang baik dan benar. Hal ini seperti yang terjadi pada karya sastra Romeo and Juliet yang dikarang oleh Shakespeare yang mendunia namanya. Karya sastra yang mendayu-dayu dengan permainan linguistiknya akan menjadi tameng besar terhadap film yang mengutamakan visual. Sebagai contoh dalam suatu hasil karya N.H.Dini yang berjudul Jatayu, dihadirkan kata-kata “ Sewaktu ia lahir masih ada gamelan seperangkat rumah itu. Dan kelahiran dia yang diharapkan bapaknya adalah kelahiran yang sangat bahagia bagi keluarga. Bapaknya ingin anaknya yang lahir itu perempuan“. Kalimat-kalimat tersebut dapat dengan mudah divisualkan melalui mise en scene. Tetapi jika kalimat berikut ini yang dihadirkan kepada sutradara “ Mata yang menyinarkan rasa geli dan terharu. Ya, Prita gadis terbang yang lahir tiada berkat dari dewa-dewa, muka lembut membikin setiap orang yang memandangnya menjadi mesra terhadapnya”. Nah ! perhatikan tiap kata yang membentuk kalimat itu, agak susah divisualkan sesuai dengan benar. Tidak salah ketika sebuah karya sastra telah di filmkan dan mendapat kritikan dari penikmat sastra tersebut karena jelas, sastra yang bermain pada bahasa dan film bermain pada visual. Menurut Christian Metz (Le signifiant imaginaire ‘Penanda Imajiner’, 1977) memandang hubungan antara penonton dengan sinema cukup kompleks karena institusi film berpokok pada dua sistem: film dan teks. Ketika film diciptakan, aktorlah yang menguasai film, tetapi ketika film diputar sebagai produk masal, penontonlah yang hadir di dalam aktor. Dengan demikian, sinema sebagai sebuah bidang kajian agaknya lebih mementingkan kehadiran penonton sebagai ‘pembaca’, sebagai kehadiran yang menghadirkan dan memberi makna pada film. sebenarnya yang membedakan sebuah karya sastra dengan naratif dalam film adalah terdapatnya struktur tiga babak pada naratif film karena film terpaut dengan durasi sedangkan karya sastra tidak terikat dengan waktu, seorang penulis novel dengan bebasnya mengekspresikan penceritaannya menjadi beratus-ratus halaman. Selain itu, tidak semua kata-kata indah dapat divisualisasikan seperti matanya yang mencoba melirik ke arahku bagaikan kibasan ekor merak yang menarik perhatian lawannya . jika di visualkan secara detail, mau durasi berapa lama sebuah adegan seperti itu yang menanamkan keindahan gerak. Hal itu sangatlah membuang waktu durasi penayangan film. Apalagi berbicara memasuki dunia produksi yang kejam dengan perhitungan budgeting dan sebagainya. Dalam sebuah blog pernah dikatakan bahwa “membekali peminat sinema (dan sineas) sederet panjang daftar ketidakbakuan, kekeliruan yang harus dijauhi, dan kesalahan-kesalahan fatal yang tidak boleh dilakukan—agar sutradara jangan terlalu sembrono mencetak efek-efek stilistika khusus”. Hal tersebut menarik perhatian saya karena mungkin saja penulis blog ini tidak mengetahui bagaimana system pembuatan film sebenarnya. Pada hakikatnya, sah-sah saja ketika film maker melakukan pengangkatan naratif film dari sebuah karya sastra. Namun perlu diingat lagi, sastra penuh dengan eksplorasi bahasa yang kental, sedangkan film adalah wujud dari eksplorasi visual sejak awal penemuan film itu sendiri. Tidak dipungkiri, dalam blog itu sang penulis yang berlatar belakang pendidikan sastra sangat geram terhadap sinema karena kembali lagi keilmuan yang ia miliki adalah ilmu sastra bukan sinema. Sebuah masalah yang dihadapkan kepada sekelompok orang yang memiliki background pendidikan yang berbeda akan menanggapi masalah itu dengan berbeda pula sesuai dengan ilmu yang ia kuasai. Apabila berita tentang kasus Ryan dari Jombang di hadapkan kepada forum yang terdiri dari kalangan agama ( kyai,dan sebagainya ), psikolog dan kriminolog. Mereka pasti akan membahas sesuai dengan ilmu yang mereka kuasai, seperti Kalangan agama akan melihat dari sisi akhlak dan larangan-larangan Tuhan yang melarang makhluknya untuk saling membunuh, kemudian seorang psikolog pasti akan membahas masalah kejiwaan dari Ryan, apakah dia memiliki masa lalu yang kelam atau ternyata ia mempunyai kepribadian yang menyimpang dan seorang kriminolog akan melihat motif apa yang digunakan oleh Ryan sehingga ia tega menghabisi nyawa orang lain tanpa rasa kemanusiaan. Sehingga untuk menangani naratif film memang sebenarnya tidak ada campur tangan dari pihak kaum yang tidak mengetahui perbedaan naratif film dengan naratif sastra.
Dalam pandangan saya saat ini, film pendek adalah film yang naratifnya hanya mengandung sebuah kejadian satu saat jadi tidak ada perpanjangan waktu dan memuat informasi yang banyak dalam sajian beberapa menit itu. Sebuah film yang pernah saya lihat pada media internet, diperlihatkan apa saja yang akan terjadi dalam sepuluh menit. Adegan dimulai saat seorang China sedang menunggu foto yang sedang di proses oleh sebuah tempat pencetakan foto. Petugas pencetakan foto berkata bahwa fotonya akan diproses selama sepuluh menit. Ternyata di Afganistan dalam sepuluh menit dari keadaan yang tanpa ledakan ternyata menjadi keadaan dimana menggugurkan banyak korban pada menit-menit terakhir. Setelah sepuluh menit tepat tiba, seorang China yang menunggu hasil pencetakan foto itu menerima hasil fotonya. Tidak banyak terdapat percakapan antar tokoh tetapi pesan yang ingin disampaikan muncul pada akhir film bahwa dalam tiap menit sebuah kehidupan tidaklah sama pada tiap orang. Menurut pandangan sekelompok pembuat film amatir, film pendek adalah film yang durasinya pendek, that’s it!. Sebenarnya dalam film pendek naratif yang dibangun lebih padat dibandingkan film panjang . perlu diingat, film pendek bukanlah film panjang yang dipendekkan.
Film panjang adalah film yang terdiri dari struktur naratif tiga babak yang terdiri dari Opening sebagai pengenalan karakter,pengenalan problem, Middle sebagai pemecahan masalah yang ada, serta Ending adalag penyelesaian masalah dan hasil apa yang diperoleh. Naratif dikembangkan melalui ide, tema kemudian berkembang menjadi basic story lalu synopsis berkembang lagi menjadi treatment dan pada akhirnya menjadi scenario utuh. Film panjang memiliki durasi yang panjang karena memiliki kekompleksitasan masalah serta adanya momentum yang berbeda pada tiap babak. Generasi film amatir lebih sering berpikir film pendek secara film panjang dengan pengertian struktur dramatik yang ada pada tiap film panjang diterapkan pada film pendek. Hal itu dikarenakan keterbiasan menonton film-film panjang yang dihadirkan oleh Hollywood amupun produksi local. Industri film pendek terkadang dianggap tabu karena hanya terasa seperti makan sambal pedas. Apabila orang yang baru mencobanya akan merasa bahwa sambal itu pedas dan mungkin mencobanya kembali tapi itu masih dalam konteks kata mungkin yang belum tentu pasti. Sedangkan penikmat segala macam sambal akan mencobanya dan merasakan hingga ia paham apa saja sensasi yang diperoleh ketika makan sambal serta bila perlu ia akan mencari tahu materi apa saja yang membuat sambal itu terasa begitu pedas. Lain halnya dengan orang pecinta sambal pedas, dimana pun berada ia akan mencari dan mencoba segala macam sambal pedas yang ada di seluruh dunia.
Naratif menuntut kita sebagai pembuat film, untuk meningkatkan kreatifitas dibidang penciptaan sebuah cerita. Tapi tetap tidak boleh melenceng dari pakem yan gada yaitu berupa premise yang diwakilikan dengan kalimat quotation sehingga penceritaan maupun pengadeganan lebih mudah untuk diciptakan. Tanpa kita sadari film-film Hollywood yang terlihat begitu menghibur menggunakan landasan berpikir premise dan quotation sebagai acuan mereka dalam menciptakan sebuah naratif yang menarik. Jadi, sebuah film yang berlandaskan kata bijak seorang filusuf dapat dikemas dengan menarik menjadi sebuah cerita tinggal bagaimana sang filmmaker mengolahnya, tidak harus film-film berat yang mengundang sejuta pernyataan yang seolah-olah berubah menjadi pertanyaan. Tapi semua kembali lagi pada filmmaker dan pola pikir mereka terhadap suatu hal. Film menjadi berat penonton menganggapnya sebagai tontonan berat, tetapi film akan terasa ringan ketika penonton menganggap tontonan itu menarik. Sekali lagi, kekuatan pikiran adalah sumber kekuatan utama. Naratif yang tercipta dapat dikelompokkan menjadi beberapa genre sesuai dengan alur bercerita, dramatik yang diciptakan serta look dan mood yang tercipta pada sebuah film. naratif sangat luas pemanfaatannya tidak hanya untuk sastra, teater dan film saja. Bahakan sebuah iklan yang berdurasi singkat menjual produk yang diselimuti oleh naratif sehingga menjadi suatu hal yang tidak menjengkelkan malah kadang kala ditunggu oleh masyarakat. Dan pada design komunikasi visual, sebuah gambar grafis yang diciptakan memiliki makna tertentu yang ketika ditanya kepada sang pembuatnya, mereka akan menjabarkan panjang lebar tentang pemilihan gambar, grafis, warna dan sebagainya. Penjelasan mereka sudah termasuk naratif yang memang tidak dilibatkan secara nyata pada karya kreatifnya, hanya saja naratifnya tersirat bukan tersurat.
Sutradara membuat visual itu ada berdasarkan naratif yang telah tercipta. Sutradara merupakan kepala dari segala kepala yang ada pada produksi film. Dia lah yang bertindak sebagai presiden kreatifnya sebuah negara bernama film. sebelum membentuk visual, sutradara terlebih dahulu bersama-sama dengan tim yang lain ( produser, penulis scenario ) menyetujui kesepakatan scenario yang akan divisualkan. Setelah itu sutradara bersepakat kembali dengan tim visual ( sinematografer, artistic ). Setelah semua mencapai kata deal, maka let’s rock!. Syuting dimulai dengan seluruh tim visual maupun naratif yang dalam pengarahannya berasal dari satu komando yang berwujud manusia bernama sutradara. Naratif dan visual adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, dimana ada visual pasti terdapat naratif. Dalam kehidupan kita selalu dihadirkan dengan dua hal itu. seperti contoh, kita berada pada suatu acara pelelangan barang. Kita melihat sebuah topi usang dilelang dengan harga berjuta-juta, hal ini merupakan visual. Padahal jika kita kembalikan kepada nalar logika kita topi seperti itu ditaksir sekitar dua puluh ribuan saja. Kita semakin penasaran kenapa sih topi seperti itu dijual dengan harga yang sangat mahal. Akhirnya kita bertanaya pada seorang ketua lelang, dan ia memberi tahu bahwa topi itu adalah topi yang dipakai oleh Jendral Sudirman waktu pacaran pertamanya, dan ini merupakan naratif. Naratif sangat memegang peranan penting terhadap visual. Tetapi visual juga sangat penting bagi keberadaan naratif. Jadi, keduanya mempunyai peranannya masing-masing pada terciptanya sebuah alat penyampaian pesan tanpa feedback bernama film.
No comments:
Post a Comment