Umum dan khusus merupakan sebuah kata yang terdapat di dalam bahasa Indonesia tentunya. Tapi coba renungkan kata tersebut dengan pikiran jernih dan terbuka.
Pemilihan memiliki arti menentukan sebuah jalan, cara, panutan dan sebagainya sesuai hati nurani dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pemilihan umum, berarti penentuan sebuah jalan oleh umum untuk suatu kemajuan bersama. Nah, ini yang jadi permasalahan menurut saya. Jujur-jujuran saja, saya memilih dan menempuh jalan untuk tidak mencontreng sebuah kertas yang sebesar poster konser tanpa gambar yang menarik itu. bukan karena saya tidak cinta negara atau tidak peduli terhadapa kemajuan bangsa. Namun terdapat beberapa alasan mengapa tindakan itu saya pilih sebagai pilihan mutlak. Alasan pertama saya yang paling logis adalah…
1. beberapa waktu jauh sebelum pemilu dilaksanakan, seorang kawan lama yang merupakan anggota kelompok pecinta lingkungan yang sudah mendunia namanya mengirimkan sebuah pesan singkat campaign lingkungan. “ kertas itu berasal dari pohon”. Begitu pula pada saat saya mengunjungi sebuah pameran produk nasional pada stand pabrik kertas ternama, seorang penjaga memberi penjelasan bagaimana sebuah kertas dapat tercipta dan ujung pangkal dari penjelasan itu mengatakan bahwa kertas berasal dari kayu. Jelas lah sudah segala penjelasan dari sebuah pertanyaan besar dan mendasar. Pada dewasa ini, kita selalu dijejali oleh bermacam-macam pemberitaan mengenai global warming, selamatkan bumi dan sebaginya. Ada satu slogan sebuah stasiun penyiaran radio memiliki slogan “ peace on earth or earth in peace”. Menggugah hati saya untuk perlahan tapi pasti seperti lagu white shoes & the couples company, saya membantu menghadirkan kedamaian bukan menjadikan damai abadi di muka bumi. Jadi singkatnya, saya lebih memilih untuk melangsungkan kehidupan dengan bumi yang sehat walafiat dari pada di sebuah tatanan negara yang terdiri dari anggota dpr haus uang. Berlomba-lomba memampangkan poster raksasa sebagai baliho. ( narsis banget sih para caleg pake majang-majang foto di jalan-jalan, emang mereka ingin banget di kenal). Orang yang melekat di hati rakyat itu ada dua criteria. Criteria pertama adalah orang yang benar-benar teruji kehebatannya dan yang kedua adalah orang yang benar-benar buruk. Jadi, labeling seseorang itu memang sudah dapat tercipta tanpa harus mereka melabelkan diri mereka sendiri. Proses labeling tidak lah memakan waktu singkat. Tidak hanya sekedar menjanjikan bualan impian semata yang dibungkus visi dan misi terbungkus dalam baying-bayang politik uang.
2. hal kedua yang saya ingin utarakan atas tindakan saya sebagai pihak golput adalah mao tse tung pernah berkata “ Perang adalah politik dengan pertumpahan darah sedangkan politik adalah perang tanpa pertumpahan darah”. Anda pasti dapat mencerna apa yang saya sampaikan tadi. Kemudian hal yang masih mendukung pernyataan nomor dua ini adalah seorang ahli pikir dari timur tengah mengatakan bahwa “ pernyataan tanpa argumentasi adlah pernyataan tanpa ilmu”. Para caleg mengutarakan visid an misinya tidak di sertai alasan latar belakang yanbg paling dasar mengapa mereka akan memilihi tindakan tersebut. Kemudian karena masyarakat Indonesia masih berada dalam batas pendidikan yangmengkhawatirkan khususnya di daera-daerah terpencil sangat meiliki range pikiran yang sangat singkat tanpa memeperdulikan impactnya.
No comments:
Post a Comment